Senin, 20 April 2026

Sindikat Uang Palsu Kampus UIN Makassar

Daftar Kebohongan Andi Ibrahim Bos Sindikat Uang Palsu UIN Makassar, Pihak Rektorat Tak Berkutik

Berikut ini daftar kebohongan Andi Ibrahim, bos sindikat uang palsu di UIN Alauddin, Makassar ke pihak rektorat hingga anak buahnya. 

Editor: Musahadah
kolase TV One/tribun timur
Andi Ibrahim, bos sindikat uang palsu di UIN Alauddin Makassar membuat sejumlah kebohongan untuk memuluskan kejahatannya. 

SURYA.co.id - Berikut ini daftar kebohongan Andi Ibrahim, bos sindikat uang palsu di UIN Alauddin, Makassar. 

Tak hanya membohongi pihak rektor UIN Alauddin Makassar, Andi Ibrahim yang sebelumnya menjabat sebagai kepala perpustakaan ini juga membohongi staf, pihak keaanan hingga anak buah yang dipekerjakan di pabrik uangnya. 

Andi Ibrahim sudah ditetapkan sebagai tersangka bersama pengusaha top Sulawesi Selatan Annar Salahuddin Sampetoding serta belasan orang yang terlibat dalam sindikat uang palsu di UIN Alauddin Makassar. 

Andi Ibrahim lah yang menyediakan tempat di perpustakaan untuk memproduksi uang palsu. 

Andi Ibrahim juga yang mengondisikan agar produksi uang palsu di perpustakaan itu berajlan aman hingga menghasilkan ratusan miliar.

Baca juga: Beda Pengakuan Sindikat Uang Palsu di UIN Makassar dan Pihak Rektorat, Kuak Kebohongan Andi Ibrahim

Pada September 2024 lalu, atas bantuan pengusaha Annar Salahuddin Sampetoding, Andi Ibrahim mendatangkan mesin cetak berkapasitas besar seharga Rp 600 juta.

Mesin cetak uang palsu yang diperkirakan berbobot dua ton itu, didatangkan langsung dari China lewat Surabaya.

Berikut sejumlah kebohongan Andi Ibrahim:

  1. Kelabui Satpam Kampus

Peran utama Andi Ibrahim sangat terlihat ketika membawa masuk mesin cetak uang palsu ke dalam kampus

Andi diduga menggunakan tipu muslihatnya untuk membawa masuk mesin cetak uang palsu itu.

Menurut Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Bahtiar, mesin cetak berukuran besar itu diangkut menggunakan forklift oleh Andi Ibrahim dan komplotannya.

Namun, untuk mengelabui petugas keamanan kampus, Andi mengaku mesin tersebut digunakan untuk mencetak buku yang akan disimpan di perpustakaan.

“Satpam sempat menanyakan perihal mesin itu, tapi Andi berdalih mesin tersebut untuk keperluan percetakan buku,” ujar Bahtiar, Senin (23/12/2024).

Sebelumnya, Kapolres Gowa, AKBP Reonald Simanjuntak, mengungkapkan bahwa mesin cetak tersebut dibawa masuk ke kampus pada malam hari demi menghindari kecurigaan.

Rekonstruksi yang dilakukan pihak kepolisian mengungkapkan bagaimana mesin cetak seberat 2 ton itu bisa masuk ke dalam gedung perpustakaan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved