Breaking News:

Prestasi Komjen Listyo Sigit Diatas Rata-rata Menurut Wakil Ketua DPR, Ini Rekam Jejaknya dari Solo

Prestasi Komjen Listyo Sigit Prabowo di atas rata-rata menurut Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsudin. Ini fakta yang terungkap.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Komjen Listyo Sigit Prabowo (tengah) yang disebut layak jadi Kapolri. Prestasi Komjen Listyo Sigit diatas rata-rata menurut Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin. 

Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu pun telah berkekuatan tetap atau inkrah.

Meski demikian, masih banyak ketidakpuasan dalam proses penanganan hukum kasus ini, terutama yang terkait dengan vonis hakim dan jalannya persidangan.

Salah satu kejanggalan yang dipermasalahkan para aktivis antikorupsi adalah pelaku yang bertindak rendah, yaitu 1 tahun penjara.

3. Maria Pauline Lumowa

Maria Pauline Lumowa tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang  pada Kamis (9/7/2020).
Maria Pauline Lumowa tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada Kamis (9/7/2020). (Instagram)

Di bawah Listyo, Bareskrim juga mengusut kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun melalui letter of credit (L / C) fiktif dengan tersangka Maria Pauline Lumowa.

Kasus ini sebenarnya telah dilindungi oleh Mabes Polri di tahun 2003. Tersangka lainnya di kasus ini bahkan sudah divonis.

Namun, sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi, Maria kabur ke Singapura di tahun 2003. Baca juga: Selama 17 Tahun,

Ini Rekam Jejak Maria Pauline Lumowa Maria diekstradisi dari Serbia dan akhirnya tiba di Indonesia pada Juli 2020.

Setelah itu, rangkaian kegiatan penyidikan dilakukan oleh Bareskrim.

Kini, kasusnya mulai memasuki tahap persidangan.

4. Djoko Tjandra 

Terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia.
Terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia. (KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Selanjutnya yang terkait pelarian narapidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

Pada Juni 2020, Djoko Tjandra sempat masuk ke Indonesia dan membuat e-KTP mengajukan permohonan peninjauan Kembali (PK) ke PN Jaksel.

Hal itu pun membuat heboh karena Djoko Tjandra kala itu berstatus sebagai buronan. 

Mulai Proses Uji di DPR Akhirnya, Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia pada 30 Juli 2020 setelah buron selama 11 tahun.

Listyo dan tim menjemput langsung Djoko Tjandra untuk dibawa ke Tanah Air.

Setelah Djoko Tjandra tertangkap, pengusutan kasus oleh Bareskrim terkait pelarian kelas kakap itu masih berlanjut.

Pertama, kasus surat jalan palsu yang digunakan dalam pelarian Djoko Tjandra.

Kasus dugaan korupsi terkait penghapusan pemberitahuan di Interpol atas nama Djoko Tjandra.

Dua jenderal polisi juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim dalam kasus tersebut.

Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte menyandang status tersangka kasus red notice karena diduga menerima suap dari Djoko Tjandra.

Lalu, mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo menjadi tersangka di kedua kasus yang mendukung Bareskrim.

Sama seperti Napoleon, Prasetijo diduga menerima uang dari Djoko Tjandra yang terkait kasus red notice.

Sementara, di kasus lainnya, Prasetijo yang menerbitkan surat jalan palsu untuk pelarian Djoko Tjandra tersebut. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menilik 3 Kasus Besar yang Ditangani Listyo Prabowo: Novel Baswedan, Maria Lumowa, Djoko Tjandra"

Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved