Minggu, 3 Mei 2026

Lapsus Musim Kemarau 2026 Di Jatim

Antisipasi El Nino, Pemprov Jatim Gaspol Mitigasi Kekeringan 

Pemprov Jatim siapkan mitigasi kekeringan dan karhutla demi jaga produksi pertanian.

Tayang:
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Wiwit Purwanto
surya/Sinca Ari Pangistu (Sinca)
AIR BERSIH - Tim BPBD Bondowoso membagikan air bersih ke daerah kekeringan di Desa Wringin, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Rabu (27/8/2025). Pemprov Jawa Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melakukan pemetaan wilayah dengan intervensi, khususnya dalam penyediaan sumber air melalui pembangunan sumur-sumur 

Ringkasan Berita:
  • Pemprov Jatim siapkan langkah mitigasi hadapi kemarau panjang 2026. 
  • Kekeringan diprediksi berdampak hingga 921 ribu hektare lahan sawah. 
  • Strategi air dan irigasi disiapkan agar produksi pertanian tetap stabil

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh elemen di Jatim menyiapkan langkah-langkah mitigatif. 

Di tingkat provinsi, Gubernur Khofifah telah dua kali menggelar rakor, baik itu mengundang BNPB dan juga rakor khusus terkait antisipasi kebakaran hutan.

Hal ini penting karena menurutnya, kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini dengan melibatkan stakeholder dan seluruh kepala daerah yang ada di Jawa Timur. 

Waspadai Bulai Mei - Agustus

Dikatakannya, musim kemarau akan mulai tinggi intensitasnya mulai bulan Mei dengan puncak kemarau terjadi pada bulan Agustus. 

"Durasi kemarau pada tahun ini juga diprediksi cukup panjang, mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim. Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," terangnya.

Baca juga: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering Dan Panjang Puncak El Nino Terjadi Agustus 

Terlebih, berdasarkan informasi dari BMKG musim kemarau tahun ini akan menimbukan peningkatan dampak kekeringan dibanding tahun 2025.

Dampak kemarau ini akan berpengaruh secara langsung pada sektor pertanian, khususnya lahan sawah.

Dimana pada awal kemarau diprediksi sekitar 56,2 persen lahan akan terdampak, dan meningkat menjadi 76,7 % atau sekitar 921 ribu hektare pada puncaknya.

Menurutnya kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat total luas lahan baku sawah di Jawa Timur mencapai lebih dari 1,2 juta hektare, yang terdiri dari sekitar 59,6 % sawah irigasi dan 40,4 % sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. 

Dengan kondisi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap menargetkan untuk menjaga produktivitas pertanian dengan luas tambah tanam padi sebesar lebih dari 2,42 juta hektare pada tahun 2026.

Baca juga: El Nino Menguat, Pakar Manajemen Bencana Unair Ingatkan Pentingnya Mitigasi

Lamongan, Bojonegoro, Ngawi, Banyuwangi, hingga Jember menjadi wilayah dengan target produktivitas utama. 

"Penguatan manajemen air menjadi penting, mitigasi kekeringan menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di Jawa Timur, khususnya pada periode kritis bulan Mei dan Agustus," terangnya.

Mitigasi dan Intervensi Penyediaan Sumber Daya Air

Saat ini, Pemprov Jawa Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah melakukan pemetaan wilayah yang membutuhkan intervensi, khususnya dalam penyediaan sumber air melalui pembangunan sumur-sumur dalam guna mendukung irigasi lahan pertanian selama musim kemarau ini.

“Dinas Pertanian memetakan daerah-daerah yang membutuhkan irigasi perpompaan agar suplai air untuk pertanian tetap terjaga dan produksi tidak terganggu,” imbuhnya.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved