Sabtu, 2 Mei 2026

Mitigasi Bencana El Nino

El Nino Menguat, Pakar Manajemen Bencana Unair Ingatkan Pentingnya Mitigasi

Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra ST MSc menyoroti pentingnya mitigasi sejak dini.

Tayang:
Surya.co.id/Habibur Rohman
CUACA - Suasana cuaca di kawasan pusat kota Surabaya yang terlihat cerah saat sore hari, beberapa waktu lalu. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026 

Ringkasan Berita:
  • National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang El Nino mencapai 62 persen pada Juni–Agustus 2026, dengan BRIN memprediksi potensi ekstrem setara fenomena terkuat sebelumnya.
  • Dampak El Nino di Indonesia meliputi kemarau panjang, kebakaran hutan, krisis air bersih, serta gangguan pertanian dan pangan.
  • Mitigasi dini disarankan, seperti isi bendungan, modifikasi cuaca, percepat masa tanam, dan diversifikasi pangan untuk adaptasi iklim.
 

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. 

Menanggapi hal tersebut, pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra ST MSc menyoroti pentingnya mitigasi sejak dini.

Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi potensi El Nino ekstrem dengan intensitas yang bisa menyamai fenomena El Nino terkuat di masa lalu. 

Baca juga: Monitoring Pompanisasi di Lamongan, Dirjen Sarpras Kementan : Petani Produktif saat El Nino

Dr Hijrah menjelaskan, istilah tersebut bukan istilah ilmiah, melainkan populer di media untuk menggambarkan intensitas yang jauh lebih kuat.

“El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Sabtu (2/5/2026).

Proses Terjadinya El Nino

Ia menjelaskan, El Nino terjadi akibat melemahnya angin pasat yang menyebabkan pergeseran massa air laut hangat dari wilayah Indonesia ke Pasifik Tengah dan Timur.

Dampaknya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat, dengan anomali mencapai 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, bahkan pada titik tertentu bisa lebih tinggi.

Kondisi ini menggeser pusat pembentukan awan hujan ke Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering.

Lebih lanjut, Hijrah memaparkan bahwa kekuatan El Nino diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), yakni indikator anomali suhu permukaan laut. 

Nilai di atas +0,5 derajat Celsius menandakan El Nino, sedangkan di bawah −0,5 derajat menunjukkan La Nina.

Kategori El Nino terbagi menjadi lemah (0,5–0,9), sedang (1–1,4), kuat (1,5–1,9), dan sangat kuat (≥2).

Dampak dan Mitigasi Bencana El Nino

Menurut Hijrah, dampak El Nino bagi Indonesia cukup signifikan, mulai dari kemarau panjang, peningkatan kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gangguan pada sektor pertanian dan pangan.

Selain itu, fenomena ini juga berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida secara global.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia menekankan empat langkah mitigasi utama yang perlu dilakukan sejak dini.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved