Laporan Khusus
Pakar FK Unair Tekankan Pentingnya Pengendalian Rodensia dan Protokol PPI
Dr Agung menjelaskan bahwa Hantavirus dapat menyebabkan dua manifestasi klinis utama yang fatal.
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Pakar FK Unair Surabaya jelaskan Hantavirus ditularkan lewat tikus liar melalui urin, feses, atau saliva.
- Virus ini dapat sebabkan HFRS (gangguan ginjal dengan demam berdarah) dan HPS (serangan pernapasan dengan mortalitas tinggi).
- Disarankan kontrol rodensia, disinfeksi lingkungan, penggunaan APD, serta edukasi masyarakat untuk hindari paparan.
SURYA.co.id, SURABAYA – Dalam beberapa waktu terakhir, Hantavirus menjadi sorotan kesehatan global.
Pakar dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan edukasi mendalam mengenai karakteristik virus ini serta langkah-langkah pencegahannya.
Pakar mikrobiologi klinik sekaligus pengurus PERDALIN Surabaya, Dr Agung Dwi Wahyu Widodo dr MSi SpMK(K) menjelaskan, Hantavirus merupakan virus RNA yang ditularkan melalui hewan pengerat (rodensia) seperti tikus liar.
Penularan utama pada manusia terjadi melalui inhalasi aerosol dari urinE, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi.
Mengenal Bahaya dan Gejala
Dalam pemaparannya, Dr Agung menjelaskan bahwa Hantavirus dapat menyebabkan dua manifestasi klinis utama yang fatal.
Yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), gangguan fungsi ginjal yang disertai demam berdarah.
Baca juga: Pakar Unair Surabaya Ungkap Risiko Hantavirus di Tengah Mobilitas Global
"Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), serangan pada sistem pernapasan yang memiliki tingkat mortalitas tinggi," katanya kepada SURYA.co.id, Kamis (14/5/2026).
“Meskipun penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus,” ujar Dr Agung.
Langkah Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Dr Agung menekankan, kunci utama pencegahan Hantavirus adalah pengendalian rodensia secara kritis.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain :
1. Inspeksi rutin dengan menutup akses masuk tikus ke dalam hunian maupun fasilitas kesehatan.
2. Disinfeksi lingkungan dengan menggunakan klorin 0,1 persen atau desinfektan standar rumah sakit pada area yang berisiko.
3. Penggunaan APD bagi petugas kesehatan. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai indikasi sangat penting saat menangani pasien suspek.
4. Edukasi Masyarakat dengan memberikan pemahaman kepada keluarga pasien untuk menghindari paparan langsung dengan debu atau area yang terkontaminasi kotoran tikus.
Edukasi Publik
| Pakar Unair Surabaya Ungkap Risiko Hantavirus di Tengah Mobilitas Global |
|
|---|
| Dishub Wajibkan Rekening Bank Jatim, 740 Jukir di Surabaya Gabung Parkir Digital |
|
|---|
| Pemerhati Bola, Kukuh Ismoyo: Pemkot - Persebaya Duduk Bersama Demi Nama Surabaya |
|
|---|
| Bonita Dena Andra, Selalu Bawa Atribut Bonek ke Luar Negeri |
|
|---|
| Klub Mulai Mantapkan Pasukan untuk Ikuti Kompetisi Internal Persebaya 2020 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Pengendalian-Infeksi-PPI-guna-mencegah-penyebaran-Hantavirus.jpg)