Sabtu, 16 Mei 2026

Laporan Khusus

Pakar Unair Surabaya Ungkap Risiko Hantavirus di Tengah Mobilitas Global

Pakar Unair Surabaya menjelaskan risiko hantavirus setelah muncul klaster dugaan kasus di kapal pesiar MV Hondius.

Tayang:
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Cak Sur
istimewa
PENTINGNYA KEWASPADAAN - Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani. Ia menyoroti pentingnya penguatan surveilans dan kewaspadaan terhadap ancaman zoonosis seperti hantavirus di tengah tingginya mobilitas global. 

Ringkasan Berita:
  • Munculnya klaster dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian global terkait risiko penyakit zoonosis di era mobilitas tinggi.
  • Pakar Epidemiologi FKM Unair Surabaya Laura Navika Yamani menyebut penularan hantavirus umumnya berasal dari paparan partikel hewan pengerat yang terinfeksi.
  • Hantavirus dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat dengan tingkat fatalitas mencapai 30 hingga 50 persen pada kasus tertentu.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kemunculan klaster dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia kesehatan, setelah sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama perjalanan lintas negara.

Kasus ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap ancaman penyakit zoonosis, di tengah meningkatnya mobilitas manusia dan aktivitas wisata global.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), SurabayaLaura Navika Yamani SSi MSi PhD, menilai kemunculan kasus di kapal pesiar tidak berarti penularan terjadi langsung di dalam kapal.

Masa Inkubasi Bisa Berlangsung Berminggu-minggu

Laura menjelaskan, hantavirus umumnya memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, sehingga gejala baru bisa muncul saat seseorang telah berpindah lokasi.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelas Laura, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, mobilitas lintas negara melalui perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus, tanpa secara langsung menunjukkan lokasi awal paparan virus.

Hal tersebut membuat investigasi epidemiologi menjadi sangat penting, untuk menelusuri asal infeksi dan pola penyebaran penyakit.

Penularan Berasal dari Hewan Pengerat

Laura menerangkan, bahwa hantavirus menular melalui partikel yang berasal dari urine, feses atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi.

Penularan dapat terjadi melalui inhalasi partikel terkontaminasi tanpa harus ada kontak langsung dengan hewan pembawa virus.

Kondisi lingkungan dengan populasi tikus tinggi, dinilai menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan.

“Sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia,” ujarnya.

Laura juga menyoroti perubahan lingkungan dan perubahan iklim yang dinilai ikut memengaruhi persebaran reservoir penyakit zoonosis.

Menurut Laura, meningkatnya aktivitas manusia di wilayah baru dan tren ekowisata membuat peluang kontak dengan sumber penyakit semakin besar.

Gejala Bisa Berkembang Cepat Jadi Pneumonia Berat

Dari sisi klinis, Laura menjelaskan gejala awal hantavirus sering kali tidak spesifik.

Pasien umumnya mengalami demam, kelelahan, hingga gangguan gastrointestinal sebelum berkembang menjadi gangguan pernapasan berat.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved