Opini
Polisi dan Ketahanan Pangan
Keterlibatan Polri dalam program nasional penanaman jagung serentak kembali menjadi sorotan publik. Apa relevansinya?
Namun, di tengah tantangan ketahanan pangan dan ketergantungan impor, kolaborasi lintas lembaga menjadi keniscayaan.
Selama dijalankan secara transparan, profesional, dan tidak mengganggu fungsi utama Polri, program ini justru dapat menjadi simbol sinergi nasional.
Polri bukan sekadar penjaga keamanan dalam arti sempit, tetapi juga bagian dari solusi bangsa dalam menjawab tantangan zaman, termasuk krisis pangan global.
Jagung yang mereka tanam hari ini bukan hanya soal pangan, tetapi tentang membangun ketahanan, kemandirian, dan kepercayaan rakyat.
Fenomena geopolitik global, seperti perang antara Rusia dan Ukraina, konflik Israel–Palestina, serta ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, telah menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
Ketidakpastian global ini berpotensi memicu inflasi, kelangkaan pangan dan energi, serta meningkatnya angka pengangguran.
Dalam situasi seperti ini, stabilitas sosial dalam negeri ikut terancam, termasuk potensi meningkatnya angka kriminalitas.
Kondisi ini menuntut perhatian serius, terutama dalam penegakan hukum terhadap sejumlah tindak kejahatan yang marak terjadi.
Beberapa di antaranya meliputi pencurian dengan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, perjudian daring (online), tawuran antarwarga, penyebaran informasi bohong (hoaks), penyebaran paham radikalisme, pembalakan liar, hingga aksi premanisme.
Persoalan-persoalan ini tidak hanya menuntut pendekatan represif semata, tetapi juga memerlukan strategi yang lebih komprehensif, yakni melalui pendekatan preventif, persuasif, dan humanis.
Di tengah kompleksitas tugas tersebut, Polri juga mendapatkan mandat baru dari pemerintah, yakni mendukung program swasembada pangan melalui gerakan penanaman jagung secara nasional.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah dalam mengantisipasi krisis pangan global serta mengurangi ketergantungan terhadap impor jagung, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak.
Dengan bertambahnya beban dan cakupan tugas, Polri dituntut untuk semakin adaptif dalam melaksanakan fungsinya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang inovatif dan kreatif agar institusi kepolisian mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah pendekatan partisipatif.
| Surya Spirit Baru |
|
|---|
| Indonesia Harus Jadi Pemimpin Ekonomi ASEAN: Timor-Leste Mitra Strategis Menuju Kebangkitan Kawasan |
|
|---|
| Jauh dari Kesan Kolot, Santri Kini Penjaga Moral, Pelopor Ekonomi dan Diaspora Peradaban Bangsa |
|
|---|
| Tayangan Xpose Uncensored Fitnah, Dukung Pesantren Tempuh Jalur Hukum |
|
|---|
| Saatnya Pemerintah Indonesia Menjadikan Guru sebagai Profesi Strategis Negara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/M-Fadeli-dosen-FISIP-Ubhara.jpg)