SURYA Kampus

Kisah Perjuangan Hayaatun Nufus Anak Sopir Jadi Wisudawan Terbaik, Rela Jualan hingga Mengajar Ngaji

Inilah sosok Hayaatun Nufus, Wisudawan Terbaik Prodi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry, Aceh

Penulis: Arum Puspita | Editor: Musahadah
Serambinews/Sara Masroni
WISUDAWAN TERBAIK - Hayatun Nufus, lulusan terbaik S1 UIN Ar-Raniry memegang piagamnya usai Rapat Senat Terbuka Wisuda Gelombang II Tahun 2025 di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Selasa (27/5/2025). 

Salah satu kunci menjadi yang terbaik menurutnya adalah manajemen waktu.

Di tengah kesibukan kuliah, dia masih menyempatkan waktu membantu ekonomi keluarga dengan berjualan di sekitaran kampus. 

“Sempat jualan geprek, terus nggak jualan lagi, karena nenek sakit. Jadi, mama terpaksa pulang balik ke kampung,” ungkap Nufus sambil sesekali mengangkat tangannya.

Cara membagi waktu yang dilakukannya terbilang cukup cerdas.

Biasa karena lelah berjualan, mengajar mengaji di Masjid Fathun Qarib kampus, sibuk organisasi dan kuliah seharian, Nufus memilih cepat tidur setelah Isya.

Tujuannya supaya mudah terbangun tengah malam dan bisa salat tahajud sekaligus memulai belajar dengan kondisi pikiran yang segar.

Dia juga memanfaatkan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), serta teknologi seperti YouTube, Google hingga AI untuk memberikan referensi tentang jurnal-jurnal dan buku mana saja yang bisa mendukung perkuliahannya selama di kampus.

“Terus, buat peta konsep, saya tipe yang lebih mengingat ketika saya gambar ketimbang saya menulis."

"Kemudian berusaha menjelaskan sendiri materi yang akan dibahas di perkuliahan besok,” ungkap Nufus.

Perempuan kelahiran Samalanga itu berpesan, selama kuliah jangan pernah alergi dengan organisasi dan komunitas di luar kampus, karena dari tempat-tempat itulah pembelajaran serta pengalaman yang sesungguhnya didapat, sangat berguna untuk menunjang akademik dan jenjang karier di masa depan. 

“Terus jangan berleha-leha, berjuang itu jangan setengah-setengah. Kalau di awal itu sudah mulai, mulai dengan mati-matian,” ucap Nufus penuh semangat.

Setelah diwisuda, perempuan kelahiran Samalanga itu berharap bisa mewujudkan mimpinya melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri, tepatnya di Universiti Sains Malaysia (USM).

Saat ditanya dengan beasiswa apa, dia dengan bulat menjawab Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). “Inginnya LPDP,” tutup Nufus mengakhiri kisahnya.(*)

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved