Ubaya Kukuhkan 3 Guru Besar Baru, Hasilkan Riset dan Inovasi yang Berdampak Jadi Prioritas

Bertambahnya jumlah guru besar di Universitas Surabaya (Ubaya), diharapkan dapat mendorong terciptanya riset dan inovasi unggul.

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Habibur Rohman
GURU BESAR - Dari kiri, Jaya Suteja, Rektor Ubaya Benny Lianto, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jatim Dyah Sawitri, Ketua Umum Yayasan Universitas Surabaya Anton Prijatno, Dini Kesuma dan Aluisius Hery Pratono pada "Pengukuhan Guru Besar" Universitas Surabaya (Ubaya), Kamis (27/2/2025). Ubaya mengukuhkan tiga Guru Besar di antaranya dalam Bidang Ilmu Rekayasa Mesin pada Fakultas Teknik, Bidang Ilmu Pengembangan Obat pada Fakultas Farmasi dan Bidang Ilmu Bisnis Digital pada Fakultas Bisnis dan Ekonomika. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Surabaya kukuhkan 3 guru besar dari Fakultas Teknik, Fakultas Farmasi dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika yang digelar di Gedung Perpustakaan Lantai 5, Kampus Ubaya Tenggilis, Surabaya, Kamis (27/2/2025).

3 guru besar yang dikukuhkan yakni Prof. The, Jaya Suteja, Ph.D. dalam Bidang Ilmu Rekayasa Mesin pada Fakultas Teknik).

Kemudian, Prof. Dr. apt. Dini Kesuma, S.Si., M.Si. dalam Bidang Ilmu Pengembangan Obat pada Fakultas Farmasi dan Prof. Aluisius Hery Pratono, Ph.D. dalam Bidang Ilmu Bisnis Digital pada Fakultas Bisnis dan Ekonomika.

Pengukuhan guru besar tersebut, dipimpin oleh Rektor Universitas Surabaya, Dr Benny Lianto dan dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jatim, Ketua Umum, Dewan Pembina dan pengurus Yayasan Universitas Surabaya, senat, dosen dan segenap sivitas Ubaya.

Para guru besar Universitas Surabaya, maupun dari universitas undangan serta keluarga dan kolega guru besar yang tengah dikukuhkan.

Rektor Benny menuturkan, hingga saat ini, Ubaya memiliki sebanyak 29 guru besar dan empat emiritus.

Pada tahun 2023, Ubaya mencanangkan sebanyak 55 guru besar baru hingga 2027.

Ia berharap , pengukuhan guru besar ini bisa menginspirasi dan menjadi teladan calon guru besar lainnya, untuk bisa mengikuti jejak guru besar, tentunya dalam penyintas keilmuan masing-masing.

“Seorang guru besar bukan pencapaian karir akhir dari seorang dosen, tapi menjadi guru besar justru merupakan awal, memberikan spirit dan inspirasi baru guna melahirkan karya ungul, brilian dan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Rektor Benny, Kamis (27/2/2025).

Bertambahnya jumlah guru besar, diharapkan dapat mendorong terciptanya riset dan inovasi unggul. Mencapai jabatan akademik tertinggi, dimaknai sebagai tanggung jawab kebermanfaatan dan dampak bagi masyarakat.

Benny juga berharap, bertambahnya guru besar ini, juga diharapkan dapat mendukung program pemerintah seperti swasembada pangan, pengentasan kemiskinan dan stunting.

“Kami ingin proses menjadi guru besar harus berkualitas, sehingga mereka yang mendapatkan gelar profesor atau guru besar adalah memang para dosen yang benar-benar unggul. Bukan percepatan, tapi angka 55 ini menginspirasi para dosen untuk bergerak mempersiapkan guru besar mereka,” tuturnya.

Dikataka Benny, Ubaya membuat beberapa pusat riset unggulan antara lain dalam bidang pangan dan kesehatan untuk menjawab berbagai program prioritas pemerintah. Kedua, terkait riset energi baru terbarukan, yang dilakukan dengan pendekatan multidisiplin.

“Awal bulan Maret nanti, kami akan meresmikan Center for Aging Wellness dan Life Science Integrated Facilities yang kami fokuskan untuk mempersiapkan berbagai kegiatan masyarakat Indonesia memasuki masa mereka menua dengan sehat, dengan bahagia. Jadi semua produk dan topik riset terkait itu akan sangat mendukung,” ungkapnya.

3 guru besar Ubaya memaparkan orasi ilmiah mereka. Prof. The, Jaya Suteja, Ph.D. membahas implementasi pencetakan tiga dimensi di bidang kesehatan melalui judul penelitian Potensi Implementasi 3D printing di Bidang Kesehatan.

Halaman
12
Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved