NASIB Pesantren Shiddiqiyah Persembunyian Anak Kiai Jombang, Ditinggal Santri, Bantuan Tak Dicairkan

Begini lah nasib Pondok Pesantren Shiddiqiyah Ploso Jombang setelah menjadi tempat persembunyian Moch Subchi Al Tsani alias Mas Bechi, anak kiai Jomba

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Musahadah
kolase SURYA.co.id
Mas Bechi, anak kiai Jombang tersangka pencabulan kini ditahan di Rutan Medaeng. Nasib Pesantren Shiddiqiyah kini banyak ditinggal santri dan tak dapat bantuan operasional dari Kemenag. 

SURYA.CO.ID - Begini lah nasib Pondok Pesantren Shiddiqiyah Ploso Jombang setelah menjadi tempat persembunyian Moch Subchi Al Tsani alias Mas Bechi, anak kiai Jombang tersangka pencabulan.

Tak cuma dibekukan izin opersionalnya oleh Kementerian Agama (Kemenag), Pesantren Shiddiqiyah Ploso juga mulai ditinggalkan santrinya setelah insiden pengepungan oleh ratusan polisi untuk menangkap anak kiai Jombang, Kamis (7/7/2022).

Kondisi Pesantren Shiddiqiyah Ploso setelah penangkapan anak kiai Jombang diungkapkan
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, Mohammad As'adul Anam. 

Dijelaskan Mohammad As'adul Anam, jumlah santri di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Ploso terus mengalami fluktuasi per tiap tingkatan.

Hal ini terjadi karena sebagian santri memilih pulang setelah ramai kasus ini, meski sebagian lainnya memilih tetap tinggal. 

Baca juga: NASIB Anak Kiai Jombang Tersangka Pencabulan Setelah Ditahan di Medaeng,Terancam 12 Tahun Penjara

"Ada orang tua atau wali murid mengambil anaknya pindah pondok lain," ungkapnya.

Saat ini pihaknya sedang memetakan para santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke tempat lain.

"Kami berkomunikasi dengan wali santri mau mengarahkan atau melanjutkan kemana. Apakah mondok lagi di daerah lain, atau menimba ilmu di sekolah pada umumnya," ujarnya ketika ditemui di Kanwil Kemenag Jatim, Jumat (8/7/2022).

"Kami tetap memperhatikan hak hak para santri. Ini merupakan tanggung jawab kami agar mereka segera mendapatkan hak mendapatkan pendidikan," tuntasnya.

Selain mencabut izin operasional, Kemenag juga menghentikan sementara bantuan operasional pondok pesantren yang dicairkan rutin setiap satu semester.

Mengenai besaran nilai bantuan dana operasional pondok pesantren, As'adul Anam menyebut setara dengan bantuan BOS yang ditangani oleh pusat. Dari wilayah setempat hanya bersifat mengajukan.

"Untuk nominalnya sendiri diturunkan langsung atau ditangani oleh pusat. Jumlahnya tidak sampai miliaran. Dicairkan setiap 6 bulan," jelasnya.

Mohammad As'adul Anam, memastikan di tempat ini hanya menyelenggarakan Pendidikan Kesetaraan Pada Pondok Pesantren Salafiyah atau PKPPS. 

"Disana tidak ada sekolah atau madrasah, yang ada pendidikan kesetaraan ponpes, dengan tingkatan Ula, Wustho, dan Ulya," terangnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved