Breaking News:

Berita Blitar

DPRD Beri Deadline 7 Hari untuk Pabrik Gula di Blitar, Tetapi Tidak Dituntut Perbaiki Jalan Rusak

Pernyataan Syahrul pun direaksi Ansori Baidowi, anggota komisi III yang lain. Menurut Ansori, keberadaan RMI memang meningkatkan ekonomi masyarakat.

surya/imam taufiq
Suasana hearing antara komisi III dan pihak RMI membahas kerusakan jalan menahun akibat truk-truk pengangkut tebu, di Gedung DPRD Kabupaten Blitar, Rabu (9/6/2021). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Banyaknya persoalan sebagai dampak beroperasinya Pabrik Gula PT Rejo Manis Indo (PG RMI) di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, akhirnya diusung ke gedung DPRD setempat, Rabu (9/6/2021). Dalam hearing tersebut, dewan membeberkan beberapa 'dosa' RMI yang memicu protes warga.

Pertemuan itu dilakukan antara anggota Komisi III, Dinas Perhubungan (Dishub) setempat dan perwakilan RMI. Sejak beroperasi dua tahun terakhir, PG RMI sudah kerap dikecam warga sekitar karena limbahnya diduga menjadi biang pencemaan di Sungai Lemon. Akibatnya, ikan di sungai itu mati.

Tidak hanya itu, dari musim giling beberapa kali, pabrik gula itu juga dituding menjadi biang kemacetan akibat deretan truk tebu yang antre masuk ke pabrik. Malah, beberapa bulan ini, RMI dituding sebagai penyebab rusaknya jalan di beberapa desa di Blitar wilayah Selatan.

Komisi III pun memberi deadline kepada RMI agar menuntaskan tiga persoalan yanhg selama ini merugikan masyarakat. Yaitu pencemaran atau polusi, limbah hasil produksi dan kemacetan akibat truk-truk parkir sembarangan.

"Pokoknya, kami minta sebelum musim giling tanggal 16 Juni ini, semua persoalan yang selalu muncul harus tuntas. Mulai dari limbah, parkir dan polusi, jangan sampai masyarakat jadi korban terus," tegas Ketua Komisi III, Sugianto kepada Syahrul, manager pengadaan tebu untuk RMI.

Tetapi pada pertemuan itu, masalah terpenting yaitu kerusakan jalan malah tidak ada solusi. Bahkan tak ada tuntutan kepada RMI agar ikut memperbaiki kerusakan jalan di desa-desa menuju pabrik gula.

Padahal hearing itu sempat tegang saat dewan mulai membahas banyaknya truk besar yang mengirim tebu. Seperti truk gandeng dan Fuso atau tronton. Dan Syahrul pun ternyata tak bisa mengelak tudingan itu. "Ya, pak. Memang ada truk besar namun itu hanya di jam-jam tertentu saja," kilah Syahrul.

Sugianto pun mencecar Syahrul atas kerusakan jalan menuju pabrik yang selama berbulan-bulan diprotes warga desa. Sebab jalan desanya memang rusak parah sehingga sampai ada spanduk sindiran bahwa jalan di Blitar tidak secantik bupatinya. "Anda sudah baca kan, kalau disindir seperti itu. Dan itu juga ramai, tak hanya di media sosial, namun juga di koran," tegas Sugianto.

"Seharusnya pihak pabrik tak memberi kesempatan truk gandeng. Sebab itu jalan desa dan bukan kelasnya untuk dilewati truk besar," tambah anggota dewan dari Partai Gerindra itu.

Sugianto juga menegur RMI agar truk yang antre masuk pabrik tidak diparkir sembarangan. Yang terjadi selama ini, truk-truk berjajar memenuhi dua sisi jalan, sehingga kendaraan lain kesulitan melintas.

Halaman
12
Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved