Rabu, 13 Mei 2026

11 Tahun Dolly Surabaya Ditutup

Sukses Bikin Pabrik Meja Biliar di Gang Eks Dolly Surabaya, Mustofa Tanro: Warga Mau Kerja Monggo

Bengkel produksi pembuatan meja biliar yang dirintis Muhammad Mustofa Tanro tak terpengaruh kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly Surabaya

Tayang:
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: irwan sy
Surya.co.id/Luhur Pambudi
MEJA BILIAR - Sosok Muhammad Mustofa Tanro (53) saat ditemui di Jalan Putat Jaya eks Dolly Surabaya, pada Sabtu (22/11/2025). Pemilik bengkel kerajinan meja biliar bernama 'Tanro Biliard'. 

Ringkasan Berita:
  • Muhammad Mustofa Tanro merintis bengkel meja biliar 'Biliard Tanro' di Putat Jaya (eks Dolly) sejak 2002 dan sukses melayani pemesan hingga luar Jawa.
  • Bisnisnya sempat vakum 7 tahun (mulai 2007) karena kebijakan penertiban perjudian.
  • Mustofa Tanro fokus pasar lokal dengan kualitas ekspor.
  • Ia berkomitmen membantu warga eks Dolly dengan menyediakan lapangan kerja di bengkelnya, namun menyayangkan mentalitas GenZ saat ini yang kurang daya juang dan ingin hasil instan.

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Bengkel produksi pembuatan meja biliar yang dirintis Muhammad Mustofa Tanro (53), barang kali satu satunya bisnis padat karya yang tak ada sangkut pautnya dengan kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly.

Bisnis tersebut sudah dirintis sejak 2002; ketika lokalisasi Dolly Surabaya masih pada masa kejayaannya.

Kerajinan 'Biliard Tanro' mendulang cuan berlimpah dibanjiri pemesan hingga luar Pulau Jawa.

Baca juga: Kisah Bu Uka dan Warga Eks Dolly Surabaya Bangkit Lewat Rumah Batik Kreatif Putat Jaya

Selama kurun waktu lima tahun merintis pada fase awal, industri kecil-kecilannya itu juga berhasil menyerap tenaga kerja dari pemuda-pemuda asli warga Putat Jaya atau para tetangganya sendiri sebanyak 15-an orang.

Bisnisnya itu sempat tumbang dan terpaksa tiarap selama tujuh tahun lamanya karena terdampak kebijakan Jenderal Sutanto Kapolri kala itu, pada tahun 2007, yang berkomitmen menumpas perjudian.

Apes, pada masa itu, permainan biliar bagi sekelompok masyarakat, ternyata masih berkelindan erat dengan praktik perjudian di tempat-tempat terselubung.

Akibatnya, billiar sempat diasosiasikan sebagai permainan haram, sehingga membuat para pebiliar, memilih bersembunyi untuk sekadar memainkannya.

Tak pelak, situasi tersebut membuat pelanggan pemesan meja billiar sirna dan aktivitas produksi bengkel milik Mustofa Tanro mandek total.

Namun, Mustofa Tanro ingin memulai kembali bisnis pembuatan meja biliar yang sempat vakum selama ini, demi menandaskan gejolak batin dalam benak diri.

Hingga akhirnya sang istri mau menerima keputusannya 'gilanya' itu, secara lapang dada dan mulai mengalirkan doa sebagai dukungan kepada sang kepala keluarga.

"Saya keluar, wah habis dimarahi, istri nolak, karena kerjaanku sudah stabil. Cuma enggak cocok. Alhamdulillah Tuhan kasih jalanku di sini," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di Gang Jalan Putat Jaya C Timur III, Surabaya, pada Sabtu (22/11/2025). 

Belajar Otodidak

Kemampuannya mengolah kayu untuk dijadikan meja biliar, murni ditempa secara autodidak.

Jauh sebelum bekerja sebagai karyawan buruh pabrik, ia pernah bekerja di beberapa tempat pengolahan kayu untuk pengerajin meja biliar di wilayah Surabaya.

Selama merintis pada fase kedua, setelah berhenti menjadi karyawan pabrik, Mustofa Tanro, awalnya menawarkan jasa perbaikan meja biliar di kafe dan tempat hiburan malam.

Sumber: Surya
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved