Pria Jenius Asal Brebes Bobol Aplikasi Canggih Grab, Raup Keuntungan Rp 6 Miliar, Begini Caranya

Tomy Nur F, hacker jenius asal Brebes membuat Grab kalang kabut. Ia berhasil membobol sistem canggih aplikasi berbasis digital, Grab.

Pria Jenius Asal Brebes Bobol Aplikasi Canggih Grab, Raup Keuntungan Rp 6 Miliar, Begini Caranya
Tribunnews/Jeprima
Aktris dan presenter Jessica Iskandar saat ditemui pada acara peluncuran GrabShare di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/3/2017). Jessica Iskandar mengatakan dirinya kini harus lebih bijaksana dalam berkomentar. 

Belajar otodidak

Ilustrasi, aplikasi pemesanan taksi online
Ilustrasi, aplikasi pemesanan taksi online (surya/ahmad zaimul haq)

Kasubdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Teddy Fanani menyebutkan sindikat order fiktif lewat aplikasi Grab hanya perlu berdiam diri di tempat melalui fake GPS.

Sindikat ini terdiri delapan orang yakni, Hacker bernama Tomy Nur F (32), warga asal Kabupaten Brebes dan tujuh pengemudi lainnya yang beroperasi menjalankan order fiktif.

Meski berasal dari Brebes, Tomy tinggal di daerah Karangrejo, Jatingaleh, Candisari, Kota Semarang untuk menjalankan aksinya sebagai hacker.

Teddy menjelaskan komplotan ini sudah terorganisir dalam menjalankan aksinya.

Seperti modus yang digunakan dengan menyiapkan ratusan unit handphone dan sejumlah aplikasi pendukung.

Menurut Teddy, tersangka Tomy diketahui membuat aplikasi yang mampu menjebol sistem operasi Grab dan memanipulasi pantauan sistem dalam aplikasi tersebut.

Para tersangka diketahui bukan asli orang Pemalang dan dua di antaranya berasal dari Jakarta.

"Mereka berasal dari luar kota sengaja datang ke Pemalang dan memakai illegal acces itu. Biasanya para ghost driver ini memilih orderan jarak pendek. Bahkan dengan fake GPS, mereka hanya perlu berdiam di tempat," ungkap Teddy.

Adapun pengungkapan tersebut berawal dari informasi yang dilaporkan pihak Grab kepada polisi.

Laporan itu masuk ke Ditreskrimsus Polda Jateng maupun Polres Pemalang. Informasi tersebut kemudian didalami dan berhasil mengungkap delapan tersangka.

Ilustrasi, salah satu aplikasi taksi berbasis online yang beroperasi di Kota Surabaya.
Ilustrasi, salah satu aplikasi taksi berbasis online yang beroperasi di Kota Surabaya. (surya/ahmad zaimul haq)

Sejumlah barang bukti disita yakni, 213 handphone yang digunakan para tersangka, sejumlah perangkat elektronik lain, termasuk memory card dam sejumlah CPU dan laptop.

Dari hasil pemeriksaan sementara, ternyata Tomy pernah beraksi juga sebagai hacker sebelum di Semarang.

Lebih dulu Tomy melakukan praktik serupa di Yogyakarta. Praktik yang dilakukan oleh Tomy diperoleh secara otodidak.

Teddy mengungkapkan, pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut karena dimungkinkan masih banyak pihak yang melakukan praktik serupa, terutama driver.

"Pengakuan hacker belajar secara otodidak untuk menerobos sistem Grab. Kalau kerugian pihak Grab akibat illegal acces tersebut mencapai Rp 6 miliar," lanjutnya.

Lebih lanjut, total kerugian itu didapat pihak Grab selama enam bulan untuk wilayah Jawa Tengah saja.

"Kerugian tersebut berdasarkan deposit yang harus dibayarkan pihak Grab kepada driver," paparnya.

Meski dipelajari secara otodidak, praktik menerobos sistem Grab tersebut juga dilakukan atas dorongan seorang temannya yang kini menjadi tersangka juga.

"Karena mayoritas driver pakai fake GPS untuk mengakali banyaknya driver. Fake GPS biasanya untuk menghindari kemacetan. Dari pengakuan Tomy, paling mudah itu meretas sistem GPS lewat android yang lollipop," jelas Teddy lagi.(Tribunjateng/cetak/Gum/hei)

Editor: Tri Mulyono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved