Lebaran 2015
Keluarga Ini Datang dari Jakarta Hanya Untuk Lihat Museum Angkut
Ia menjadi tertarik karena di situ ada moda angkutan yang sudah tidak tampak lagi di jalanan.
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | BATU - Pukul 08.00 WIB, Selasa (21/7/2015), pengunjung mengular hingga 100 meter di depan loket tiket masuk ke Museum Angkut di Kota Batu.
Padahal loket penjualan tiket baru buka pukul 10.00 WIB. Objek wisata ini mampu merebut hati wisatawan sejak diresmikan setahun lalu.
Di barisan terdepan antrean, berdiri sesosok pria mengenakan kaus putih dan celana jeans.
Beberapa kali ia melihat ke arah barisan antrean di belakanganya, kemudian berpaling melihat lubang loket tepat di depannya yang masih tertutup rapat. Pria itu bernama Bambang Yudianto (46).
Yudi, sapaan akrab Bambang Yudianto datang dari Jakarta, Senin (20/7/2015) hanya untuk hanya untuk menikmati isi Museum Angkut.
Memang dia tidak langsung menuju Batu, tetapi transit dulu di keluarga istrinya di Blitar.
Tak lama di Blitar, Yudi dan tujuh keluarganya bergeser ke Malang dan menginap sehari di sebuah hotel di Kota Malang karena kelelahan.
Keesokan harinya, barulah mereka melaju ke Batu. Bahkan mereka tidak memikirkan untuk berwisata dulu di Kota Malang.
"Ya, karena tujuan utama kami memang ke Museum Angkut ini," tutur Yudi soal mengapa mereka tidak lebih dulu menikmati Kota Malang yang sebenarnya juga menyediakan banyak tempat wisata.
Dengan mobil sewaan, Yudi dan tujuh keluarganya berangkat menuju Kota Batu. Namun ternyata perjalanan itu tidak mudah juga.
Sejak keluar dari Kota Malang, tepatnya di Pertigaan Jalan Soekarno Hatta ia sudah masuk dalam barisan mobil macet. Mobilnya hanya bisa merambat pelan.
Kemacetan kembali ia rasakan sekitar 5 km menjelang Alun-alun Kota Batu. Bahkan jalan alternatif di Kecamatan Junrejo pun nyaris tidak bisa dilewati.
“Saya pasrah. Karena saya tidak tahu jalan tembusan, jadi ikut jalur utama yang macet,” tutur Yudi.
Mengapa Yudi begitu ngotot ingin ke Museum Angkut? Yudi pun mengungkapkan, selama ini ia terpana menyaksikan foto-foto teman-temannya yang sudah lebih dulu menjejakkan kakinya di Museum Angkut.
Ia menjadi tertarik karena di situ ada moda angkutan yang sudah tidak tampak lagi di jalanan.