Penutupan Program Studi
ITS Tekankan Evaluasi Prodi Harus Mendalam, Bukan Sekadar Ukur Siap Kerja
Pembukaan maupun penutupan program studi merupakan hal yang lazim terjadi di lingkungan perguruan tinggi.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Rektor ITS menegaskan buka-tutup program studi hal biasa, tapi evaluasi harus komprehensif, bukan sekadar serapan kerja.
- ITS membangun kemampuan logis, adaptasi, komunikasi, dan belajar agar lulusan “future ready from day one.”
- Prodi dasar seperti matematika jadi fondasi AI, keamanan siber, hingga fintech, sehingga relevansi tak bisa diukur tren kerja sesaat.
SURYA. CO.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai evaluasi program studi di perguruan tinggi tidak bisa hanya didasarkan pada ukuran kesiapan kerja lulusan atau kebutuhan industri jangka pendek.
Rektor ITS, Prof Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU., AEng. mengatakan pembukaan maupun penutupan program studi merupakan hal yang lazim terjadi di lingkungan perguruan tinggi.
Namun, menurutnya, proses evaluasi harus dilakukan secara mendalam dan komprehensif.
“Kalau di kampus-kampus, buka tutup prodi itu sesuatu yang biasa. Tapi dasarnya bukan sekadar apakah prodi itu menghasilkan lulusan siap kerja atau tidak,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Sabtu (9/5/20260.
Tak Hanya Pencetak Tenaga Kerja
Ia menjelaskan perguruan tinggi tidak dapat diposisikan hanya sebagai lembaga pencetak tenaga kerja yang langsung siap digunakan industri sejak hari pertama bekerja.
Menurutnya, setiap industri memiliki karakter, teknologi, dan kebutuhan yang berbeda sehingga kampus tidak mungkin menghasilkan lulusan yang langsung plug and play untuk seluruh sektor industri.
“Setiap industri punya teknologi, tools, dan kebutuhan berbeda. Jadi rasanya tidak fair kalau kampus dituntut menghasilkan lulusan yang langsung plug and play,” katanya.
Karena itu, ITS lebih menekankan penguatan fundamental mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kemampuan berpikir logis, daya adaptasi, dan kemauan belajar.
“Kampus itu tidak mencetak tenaga kerja siap pakai. Yang dibangun adalah kemampuan berpikir logis, kemampuan belajar, kemampuan beradaptasi, dan fondasi dasarnya,” jelasnya.
Ia menilai lulusan perguruan tinggi memang belum tentu langsung siap bekerja pada hari pertama, tetapi harus memiliki kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
“Lulusan itu mungkin tidak ready to work on day one, tapi harus future ready from day one,” tegasnya.
Evaluasi Program Studi Rutin Dilakukan
Sementara itu, Wakil Rektor II ITS, Dr. Machsus, ST, MT, mengatakan evaluasi program studi memang rutin dilakukan di ITS sebagai bagian dari penjaminan mutu dan penguatan kualitas akademik kampus.
Menurutnya, evaluasi dilakukan dengan melihat berbagai aspek seperti kualitas akademik, relevansi dengan kebutuhan industri, kualitas lulusan, minat calon mahasiswa, hingga keberlanjutan pengembangan keilmuan.
Namun demikian, ia menegaskan ITS hingga kini belum memiliki kebijakan untuk menutup program studi. Evaluasi lebih diarahkan untuk penguatan dan revitalisasi program studi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
| Tabiat Ashari Pengasuh Ponpes Tersangka Pencabulan di Pati Dibongkar Tetangga, Jarang Srawung Warga |
|
|---|
| Ingat AKBP Basuki Tersangka Meninggalnya Dosen Untag Semarang di Hotel? Lari Usai Dituntut 5 Tahun |
|
|---|
| Perjuangan Ayah Korban Pencabulan Ashari Pengasuh Ponpes di Pati Tuntut Keadilan hingga Diintimidasi |
|
|---|
| Jadwal MotoGP Prancis Hari Ini, Lihat Aksi Veda Pratama Setelah Lolos Q2 Le Mans |
|
|---|
| Prediksi Skor Persis vs Persebaya Surabaya, Bajol Ijo Diunggulkan Menang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/proses-evaluasi-harus-dilakukan-secara-mendalam-dan-komprehensif.jpg)