Penutupan Program Studi
ITS Tekankan Evaluasi Prodi Harus Mendalam, Bukan Sekadar Ukur Siap Kerja
Pembukaan maupun penutupan program studi merupakan hal yang lazim terjadi di lingkungan perguruan tinggi.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
“Kalau di ITS, sejauh ini arahnya memang lebih pada evaluasi untuk penguatan, transformasi, dan pengembangan kebutuhan prodi baru, bukan pada penutupan prodi,” ujarnya.
Ia menjelaskan evaluasi di ITS lebih banyak menyentuh pembaruan kurikulum, model pembelajaran, fleksibilitas lintas disiplin, penguatan riset, hingga kolaborasi dengan industri dan masyarakat.
“Orientasinya menata dan merevitalisasi, bukan sekadar menghilangkan,” katanya.
Perkembangan Teknologi Masa Depan
Menurut Machsus, program studi terapan memang cenderung lebih cepat beradaptasi terhadap kebutuhan praktis industri karena sifatnya yang lebih aplikatif.
Meski begitu, program studi ilmu dasar tetap memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi masa depan.
Ia mencontohkan matematika murni yang kini menjadi fondasi bagi perkembangan artificial intelligence (AI), keamanan siber, kriptografi, hingga financial technology.
Karena itu, ia menilai relevansi program studi tidak bisa hanya diukur dari tren pasar kerja jangka pendek atau tingkat serapan lulusan sesaat.
“Kalau evaluasi hanya berbasis serapan kerja sesaat, ada risiko kita menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja,” jelasnya.
Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS, Wisya, menilai pendidikan tinggi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai jalur untuk mencari pekerjaan.
Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Menurutnya, kuliah pada dasarnya merupakan ruang belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga penutupan program studi hanya karena ukuran kebutuhan kerja terasa kurang tepat.
“Beberapa kali diskusi sama teman-teman, terutama anak soshum, rasanya agak aneh kalau prodi ditutup. Karena esensi kuliah itu belajar, bukan hanya cari kerja,” ujarnya.
Ia menilai setiap mahasiswa memiliki tujuan berbeda ketika menempuh pendidikan tinggi.
Ada yang berorientasi masuk dunia industri, tetapi ada pula yang menikmati proses belajar dan memilih jalur akademik.
Tak Bisa Digantikan Pembelajaran Mandiri
Wisya juga menilai proses belajar di perguruan tinggi tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran mandiri atau daring karena mahasiswa tetap membutuhkan pendampingan langsung dari dosen.
“Mungkin sekarang ada banyak opsi belajar mandiri atau belajar online, tapi tetap berbeda dengan belajar langsung dibimbing dosen,” pungkasnya.
Yang Dievaluasi ITS
Bukan:
✘ Siap kerja atau tidak
✘ Tinggi-rendah peminat saja
✘ Serapan kerja jangka pendek semata
Tetapi:
- Kemampuan adaptasi lulusan
- Fondasi keilmuan
- Relevansi masa depan
- Soft skill dan logical thinking
- Kemauan belajar (willing to learn)
BACA BERITA SURYA.co.id LAINNYA DI GOOGLE
| Tabiat Ashari Pengasuh Ponpes Tersangka Pencabulan di Pati Dibongkar Tetangga, Jarang Srawung Warga |
|
|---|
| Ingat AKBP Basuki Tersangka Meninggalnya Dosen Untag Semarang di Hotel? Lari Usai Dituntut 5 Tahun |
|
|---|
| Perjuangan Ayah Korban Pencabulan Ashari Pengasuh Ponpes di Pati Tuntut Keadilan hingga Diintimidasi |
|
|---|
| Jadwal MotoGP Prancis Hari Ini, Lihat Aksi Veda Pratama Setelah Lolos Q2 Le Mans |
|
|---|
| Prediksi Skor Persis vs Persebaya Surabaya, Bajol Ijo Diunggulkan Menang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/proses-evaluasi-harus-dilakukan-secara-mendalam-dan-komprehensif.jpg)