Senin, 11 Mei 2026

Penutupan Program Studi

Kampus Swasta di Kota Surabaya Ogah Gegabah Hadapi Polemik Penutupan Program Studi Tak Relevan

Faktor yang menentukan relevansi bukan semata nama program studinya, melainkan kompetensi yang diajarkan.

Tayang:
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Dyan Rekohadi
Foto Istimewa
ILUSTRASI - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya 

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah perguruan tinggi swasta di Kota Surabaya, enggan terburu buru menutup program studi, yang tidak relevan kepentingan industri.
  • Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Hidayatullah menambahkan, faktor yang menentukan relevansi bukan semata nama program studinya, melainkan kompetensi yang diajarkan.
  • Hidayatullah berpesan kepada pemerintah, bahwa pendidikan tinggi tidak bisa semata-mata didesain hanya mengikuti kebutuhan industri jangka pendek. 

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Sejumlah perguruan tinggi swasta di Kota Surabaya, enggan terburu buru menutup program studi, yang tidak relevan kepentingan industri.

Para akademisi terus memutar otak, di tengah wacana yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Kampus yang beralamat Jalan Raya Sutorejo, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya ini intens meningkatkan kualitas pembelajaran.

Baca juga: Kritik Pedas Presiden BEM Ubhara Soal Nasib Prodi: Kampus Bukan Sekadar Budak Industri

 

Dekan Fakultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains Achmad Hidayatullah, mengatakan, kualitas pembelajaran ditingkatkan dengan penekanan pada kompetensi abad ke 21. 

“Misalnya kemampuan Critical Thinking, Kreativitas, Kolaborasi, Komunikasi, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam proses belajar,” ujar Hidayatullah, Kamis (7/5/2026).

Dirinya memaparkan, kompetensi-kompetensi ini justru dinilai para ahli sebagai kemampuan utama yang dibutuhkan di masa depan.

Bahkan hal itu diterapkan di seluruh program studi, baik Eksakta maupun Sosial-Humaniora.

Oleh karena itu, menurutnya,  tidak ada program studi yang benar-benar tidak relevan.

Tantangannya justru semakin kompleks di tengah perubahan teknologi digital, yang sangat cepat dan kecerdasan buatan

“Saya melihat ada kecenderungan pemerintah melihat pendidikan tinggi seperti sebuah black box atau kotak hitam. Inputnya adalah mahasiswa, lalu output yang diharapkan adalah lulusan yang cepat mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi di dunia industri,” paparnya.

Hidayatullah menambahkan, faktor yang menentukan relevansi bukan semata nama program studinya, melainkan kompetensi yang diajarkan.

Mulai dari bagaimana proses pembelajarannya, serta cara kampus membentuk karakter mahasiswa agar tangguh, adaptif, dan memiliki etos kerja yang kuat.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved