Lapsus Musim Kemarau 2026 Di Jatim
815 Desa Terancam Kekeringan, BPBD Jatim Siapkan Dropping Air Bersih
Sebanyak 815 desa di Jatim rawan kekeringan, BPBD siapkan distribusi air bersih.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Wiwit Purwanto
Ringkasan Berita:
- BPBD Jatim identifikasi 815 desa rawan kekeringan di 26 kabupaten.
- Kemarau panjang akibat El Nino berpotensi perluas dampak.
- Dropping air bersih dan koordinasi lintas sektor disiapkan.
SURYA.CO.ID, SURABAYA – Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyebut sebanyak 815 desa berisiko mengalami kekeringan di musim kemarau tahun 2026.
Terutama dengan fenomena el nino yang disebut akan lebih panas dan lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya.
“Berdasarkan identifikasi yang kami lakukan ada sebanyak 815 desa yang berisiko mengalami kekeringan di tahun ini. Desa-desa itu tersebar di 222 kecamatan dan mencakup 26 kabupaten,” kata Gatot, Sabtu (2/5/2026).
Untuk itu, pihaknya menyampaikan bahwa BPBD Jatim telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih terik dan berlangsung lebih lama dibanding biasanya.
“Intensitas El Nino tahun ini diperkirakan lebih tinggi, sehingga suhu udara meningkat dan durasi kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini berpotensi memperluas wilayah terdampak kekeringan,” jelas Gatot.
Baca juga: Antisipasi El Nino, Pemprov Jatim Gaspol Mitigasi Kekeringan
Ia menambahkan, desa-desa yang masuk kategori rawan umumnya berada di daerah dengan ketergantungan tinggi terhadap air hujan serta minim infrastruktur penyediaan air bersih.
Situasi ini membuat masyarakat setempat lebih rentan saat musim kemarau berkepanjangan.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BPBD Jatim bersama sejumlah organisasi perangkat daerah tengah menyusun langkah mitigasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang akan melibatkan pemerintah kabupaten/kota dan dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur.
“Koordinasi ini penting agar seluruh pihak memiliki kesiapan yang sama dan langkah penanganan bisa dilakukan secara efektif,” ujarnya.
Baca juga: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering Dan Panjang Puncak El Nino Terjadi Agustus
Fokus Utama Penyediaan Air Bersih
Selain koordinasi, penyediaan air bersih menjadi fokus utama. BPBD telah menyiapkan mekanisme distribusi air ke wilayah terdampak, termasuk melalui pengiriman menggunakan truk tangki.
Penyaluran bantuan ini akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. BPBD juga memastikan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar distribusi tepat sasaran.
“Kami memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Pemetaan wilayah terdampak juga terus dilakukan agar penanganan lebih cepat,” tegasnya.
Edukasi Penggunaan Air Secara Efisien
Di sisi lain, pemerintah daerah didorong untuk melakukan langkah pencegahan seperti memaksimalkan sumber air yang tersedia, membangun penampungan air, serta mengedukasi masyarakat terkait penggunaan air secara efisien.
Baca juga: El Nino Godzilla Berpengaruh pada Kesehatan, Pakar Unair Ingatkan Risiko ISPA
Gatot juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menghadapi potensi kekeringan. Warga diimbau mulai bersiap sejak dini, misalnya dengan menyimpan cadangan air dan menghemat pemakaian.
“Partisipasi masyarakat akan sangat membantu terutama penggunaan air yang bijak untuk mengurangi dampak kekeringan,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Gubernur-Jawa-Timur-Khofifah-Indar-Parawansa-menyalurkan-bantuan-untuk-mengatasi-kekeringan.jpg)