Berita Viral

Desak Polda Jalankan 'Jumat Keramat' ke Roy Suryo Cs , Peradi Bersatu: Tanpa Tedeng Aling-aling!

Penyidik Polda Metro Jaya kembali memeriksa sejumlah saksi dan pelapor kasus tudingan ijazah palsu Jokowi pada Senin (4/8/2024). 

|
Editor: Musahadah
kolase kompas TV
JUMAT KERAMAT - Sekjen Peradi Bersatu Ade Darmawan mendesak Polda Metro Jaya memberlakukan Jumat Keramat untuk Roy Suryo Cs di kasus ijazah Jokowi. 

Silfester Matutina, mengaku sempat ditelepon oleh Jokowi sebelumnya.

"Kemarin Bapak (Jokowi) ada menelepon saya, bahwa beliau baik-baik saja di Solo, bergembira, bersama keluarga, dan terus menerima masyarakat. Ini yang membuat Pak Jokowi bergembira," ujar Silfester Matutina.

"Pak Jokowi dan Mas Gibran mendukung penuh keputusan Pak Prabowo mengenai pengampunan, abolisi, dan amnesti," lanjutnya.

Sebut Partai Biru

Sebelumnya, Silfester dan Ade Darmawan menyebut partai biru sebagai dalang di balik tudingan ijazah palsu Jokowi. 

Awalnya Ade tidak bisa menuduh langsung siapa sosok yang dimaksud Jokowi itu.

Ade hanya meminta agar publik melihat baju yang dia kenakan terkait dalang isu ijazah palsu Jokowi.

Dalam tayangan itu, Ade sedang memakai baju biru. 

Baca juga: Sosok Herzaky Mahendra yang Tegaskan Roy Suryo Bukan Kader Partai Demokrat, Bantah Isu Partai Biru

"Nah ini kalau ini kita tidak bisa langsung menuduh ya, mungkin di sini dugaan-dugaan saja. Tetapi saya tidak bisa langsung menjurus ke sana. Tetapi dengan tampilan saya, mungkin teman-teman Kompas TV dan teman-teman pemirsa dari Kompas seluruh Indonesia sudah melihat saya tampilan hari ini saya berbaju apa," kata Ade, seperti dikutip dari Kompas TV pada Senin (28/7/2025) dini hari.

"Sisa men-challenge saja, mencari pemikiran sendiri, berpikir masyarakat sendiri, bahwa siapa kira-kira dalangnya. Saat ini saya berbaju apa? Nah itu mungkin salah satu clue yang bisa saya sampaikan," imbuhnya.

Pernyataan blak-blakan justru disampaikan Silfester Matutina.

Awalnya Silfester menyebut ada tokoh politik di balik isu ijazah palsu dan pemakzulan Gibran yang tidak punya dasar-dasar hukum dan fakta-fakta konstitusi yang benar. 

Menurutnya, isu ini hanya untuk menghancurkan lawan politik dengan tidak beradab. 

"Bukan hanya isu pemakzulan, dan ijazah palsu. Bahkan Kalimat-kalimat yang  menyudutkan secara pribadi, selalu dilakukan,  seperti Jokowi PKI, Gibran fufufafa, Gibran plonga plongo," ungkap Silfester. 

Silfester menyebut dalang dari ini semua bisa jadi adalah yang kalah pilpres 2024 yang lalu.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved