Bangkalan Panen Sayur Buah di Lahan Kering, Inovasi Eco-Edufarming PHE WMO Raih PROPER Emas 2024

Untuk memenuhi kebutuhan buah dan sayur, biasanya kami mendatangkan dari Jawa. Karena itulah harga buah dan sayuran mahal

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
PHE WMO
LAHAN KERING PRODUKTIF - Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) menggalakkan inovasi lewat program eco-faming di lingkungan berbahan organik dengan sistem berkelanjutan, salah satunya menyulap lahan tidur kering di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. 

 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Inovasi program Eco-Edufarming yang digelorakan Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) dalam beberapa tahun terakhir telah menyulap lahan kering tak tergarap di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Bangkalan menjadi lahan produktif. 

Program pertanian ramah lingkungan berbahan organik dengan sistem berkelanjutan itu telah meningkatkan produktivitas 6,7 hektare lahan kering.

Masyarakat desa setempat kini tidak perlu lagi bergantung pasokan sayur dan buah dari Pulau Jawa. Pasalnya, lahan kering seluas sekitar 6,7 hektare lahan kering itu sekarang bisa ditanami dengan memanfaatkan 95,8 ton limbah ternak untuk pupuk organik.

Selain itu, lebih dari 6 ton cocopeat per tahun dimanfaatkan untuk membantu penghematan air dengan menggunakan sistem pertanian regeneratif berbasis teknologi tepat guna.  

Ketua Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera, Ahmad Marnawi mengungkapkan, sebelumnya banyak lahan pertanian di Bandang Daja kering sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Akibatnya, warga jarang mengkonsumsi sayur dan buah karena harganya mahal.

“Untuk memenuhi kebutuhan buah dan sayur, biasanya kami mendatangkan dari Jawa. Karena itulah harga buah dan sayuran mahal,” ungkap Ahmad Marnawi, Selasa (25/2/2025). 

Ia menjelaskan, pihaknya berterima kasih kepada PHE WMO yang telah memberikan bermacam bantuan mulai kegiatan sosialisasi hingga pelatihan kepada masyarakat berkaitan program berkelanjutan Eco-Edufarming. 

Sebelumnya, lanjut Marnawi, banyak potensi lahan di desa yang belum optimal dimanfaatkan karena minimnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat saat dihadapkan lahan pertaniannya yang mengering.

“Faktor itulah yang kemudian membuat masyarakat Desa Bandang Daja tidak ada pilihan selain pergi merantau untuk mencari nafkah keluarga. Warga juga mencoba beternak sapi, namun saat kemarau, tak mudah bagi kami mencari pakan ternak. Kekeringan lahan membuat petani tidak sejahtera dan ini berdampak pada sektor pendidikan,” pungkasnya.

Sukses itu membuat PHE WMO diganjar penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. PHE WMO merupakan bagian dari Zona 11 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina. 

Penghargaan ini diperoleh melalui inovasi Program Eco-edufarming yang dikembangkan di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, dengan melibatkan 28 anggota Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera (BSS). 

Manager WMO Field, M Basuki Rakhmad mengungkapkan, pihaknya mengimplementasikan program ini untuk mengatasi lahan kritis yang memiliki kandungan bahan organik rendah dan struktur tanah yang kurang baik. Sehingga kurang mampu mendukung pertumbuhan tanaman. 

“Secara sosial, masyarakat Desa Bandang Dajah belum menguasai pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pengelolaan SDA. Sehingga banyak potensi desa yang belum optimal dimanfaatkan,” ungkap Basuki.

Untuk diketahui, tahun ini ada 4.495 perusahaan yang terdaftar dalam penilaian PROPER. Di mana 85 perusahaan mendapat PROPER Emas, 227 perusahaan PROPER Hijau, 2.649 perusahaan PROPER Biru, 1.313 perusahaan PROPER Merah, dan 16 perusahaan dapat PROPER hitam. 

Halaman
12
Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved