Konferwil PWNU Jatim

Konferwil PWNU Jatim 2024 Jombang, Ponpes Tebuireng dan NU Bagai Anak Kandung yang Tak Bisa Dilepas

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Irfan Yusuf Hasyim, sebut NU dan Pondok Tebuireng ibarat anak kandung yang tidak bisa dipisahkan

|
Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: irwan sy
anggit puji widodo/surya.co.id
Sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Irfan Yusuf Hasyim, di Konferwil PWNU Jatim 2024. 

SURYA.co.id | JOMBANG - Saat memberi sambutan di Konferwil PWNU Jatim 2024, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Irfan Yusuf Hasyim, sebut NU dan Pondok Tebuireng ibarat anak kandung yang tidak bisa dipisahkan. 

Pria yang akrab disapa Gus Irfan itu sebagai awalan mengucapkan selamat datang kepada tamu undangan dan juga para peserta Konferwil PWNU Jatim 2024, Jumat (2/8/2024).

Ia juga tak lupa berterima kasih, telah mempercayakan agenda Konferwil PWNU Jatim 2024 di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Baca juga: Ketum PBNU Gus Yahya Resmi Buka Konferwil PWNU Jatim 2024 di Ponpes Tebuireng Jombang

"Kami bahagia atas dipilihnya Tebuireng sebagai tempat Konferwil PWNU Jatim tahun 2024 ini," ucapnya.

Sengaja memang diletakkan di Kampus Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy), karena sebagai bentuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Harapannya, konferensi bisa melahirkan keputusan yang bermanfaat bagi umat, dan melahirkan pemimpin yang sangat memahami NU, memahami cita-cita muasis NU.

"Hari kita memulai Konferwil PWNU Jatim 2024, kami mengucapkan selamat datang di Ponpes Tebuireng. Tebuireng dan NU adalah dua entitas yang tak terpisahkan, lahir dari muasis yang sama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari," ujarnya kepada para tamu undangan.

Gus Irfan melanjutkan, tepat tanggal 3 Agustus, Pondok Pesantren Tebuireng akan berusia 125 tahun.

Sementara itu, NU memasuki masa-masa 100 tahun.

Dengan usia yang cukup lama, ia berharap NU dan Tebuireng bisa terus berkhidmat kepada umat dan negara.

"Kita berharap kedua anak kandung ini bisa terus berkhidmat kepada umat, bangsa dan dunia," katanya.

Baginya, NU dan Tebuireng adalah dua sisi mata uang, yang mana jika salah satu rusak, maka sisi lain tidak akan bernilai.

Ia juga ingin, dalam forum nanti para peserta juga menciptakan 3 G.

"Guyub, Gayeng dan Guyon," imbuhnya.

Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin selaku Pj Ketua PWNU Jatim juga mengucapkan banyak terima kasih, selama memimpin kapal besar PWNU, dirinya banyak dibantu oleh anggota dan pengurus.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved