Grahadi

Beranda Grahadi

Belum Pulih Sempurna, Geliat Sektor Peternakan di Jatim Berusaha Bangkit Seusai Diterpa Virus PMK

geliat ekonomi di sektor peternakan Jatim belum kembali pulih sempurna seperti semula seusai wabah penyakit mulut dan kuku atau PMK.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: irwan sy
fatimatuz zahro/surya.co.id
Petugas Dinas Peternakan Jatim melakukan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) massal di peternakan sapi perah di kawasan Pujon Kabupaten Malang, Rabu (27/9/2023). 

SURYA.co.id | BATU - Setahun berlalu sejak awal merebaknya virus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di provinsi Jawa Timur.

Meski virus ini telah berhasil tertangani dan saat ini sudah nol kasus PMK di Jatim, nyatanya geliat ekonomi di sektor peternakan Jatim belum kembali pulih sempurna seperti semula.

Sektor hilir yang memanfaatkan hasil ternak sapi baik daging sapi maupun susu sapu hingga saat ini masih terdampak.

Salah satunya seperti yang dialami oleh masyarakat di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Desa terpencil penghasil susu sapi terbesar di Kota Batu ini hingga saat ini masih terkendala produksi dan pemasaran produk mereka.

Produk mereka masih harus menghadapi tantangan karena akibat PMK, produk susu dari Jatim masih ditolak oleh Provinsi Bali.

Padahal salah satu daerah tujuan pengiriman susu segar dari Brau adalah Bali.

Muhammad Munir, Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri produsen Mozzarella Dusun Brau mengatakan bahwa warga masyarakat desanya sangat bergantung pada ternak sapi perah.

"Jumlah penduduk desa kami ini lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah ternak sapi perahnya. Sejak PMK merebak, jujur warga kami sangat terdampak. Karena menghasilkan susu yang berkualitas adalah sumber mata pencaharian mereka sehari-hari," tegas Munir, Rabu (27/9/2023).

Selama ini, dikatakannya Koperasi Margo Makmur Mandiri sudah mengirim susu segar ke Indolakto.

Selain itu koperasinya juga menyuplai susu segar dengan bekerja sama dengan PT Gioia Cheese Indonesia di Denpasar Bali.

"Jadi ada WNA dari Itali yang punya pabrik pembuat keju di Bali. Kami biasa mengirim susu ke sana. Namun akibat wabah PMK pengiriman susu ke luar pulau hingga saat ini masih dilarang," tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa saat ini total populasi sapi di Dusun Brau ada 1.200 sapi dengan produksi susu mencapai 5.000 liter per hari.

Kondisi ini masih belum pulih dibandingkan sebelum PMK menyerang, di mana produksi susu sapi di dusun ini mencapai 7.500 liter per hari.

"Jadi saat ini masih ada PR dalam hal mengembalikan produktivitas susu sapi perah karena saat ini masih 75-80 persen dari kondisi normal. Sebab kondisi sapi memang tidak bisa maksimal dalam menghasilkan susu sejak ada PMK," tegasnya.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved