Di Hadapan Panglima TNI, Megawati Ungkap Strateginya Tumpas KKB Papua: Kirim Beberapa Batalyon

Di hadapan Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Megawati Soekarnoputri mengungkap strateginya menumpas KKB Papua. Kerahkan beberapa batalyon.

Puspen TNI
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dan Megawati Soekarnoputri saat peluncuran KRI Bung Karno. Megawati Ungkap Strateginya Tumpas KKB Papua. 

SURYA.co.id - Di hadapan Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Megawati Soekarnoputri mengungkap strateginya menumpas KKB Papua.

Strategi Megawati tersebut adalah mengirimkan beberapa batalyon pasukan untuk memberikan efek gentar.

Megawati menyampaikan hal ini saat duduk di sebelah Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, dalam acara peresmian dan pengukuhan Komandan KRI Bung Karno-369 di Mako Kolinlamil, Jakarta Utara.

Ia mengatakan jika dirinya masih menjadi komandan dalam hal ini sebagai presiden, dirinya akan menerjunkan beberapa batalion ke Papua.

"Saya lihat yang maju ke Papua ini, saya terus bilang kalau saya masih komandan, saya turunkan di sana berapa batalion," kata Megawati, melansir dari Tribunnews, Sabtu (4/6/2023).

Penerjunan beberapa batalion ke Papua menurutnya bisa sebagai detterence, atau penggentaran.

Strategi ini dimaksudkan untuk mencegah musuh mengambil tindakan yang belum dimulai atau mencegah musuh melakukan sesuatu.

"Kenapa, itu kan detterence, saya aja ngerti detterence," ungkapnya.

Pasalnya Megawati menyebut KKB di Papua hanya memiliki sedikit anggota yang jumlahnya yang berbanding jauh dari jumlah pasukan TNI-Polri.

Menurut Megawati, batalion yang diterjunkan ke bumi Cenderawasih dapat menggelar pelatihan di wilayah aman. Suara latihan yang keras tersebut bisa dijadikan perang psikologi terhadap kelompok bersenjata.

"Kalau menurut saya mungkin saya salah bisa dikoreksi, kalau sekian batalion ditaruh, itu kan bisa lihat lapangan, kedua, terus latihan di daerah yang aman tapi kan kedengeran bagi mereka. Itu apa namanya, perang psikologi jadi bukan hanya perang fisik saja," ungkap Megawati.

Megawati pun bercermin dari sikap patriot dan heroiknya Yos Soedarso dalam melakukan pertempuran laut di Perairan Aru saat pembebasan Irian Barat.

Kala itu Yos Soedarso dan pasukannya hanya mengawaki KRI Macan Tutul.

Sedangkan, pasukan Belanda menggunakan Kapal Induk Karel Doorman yang berukuran begitu besar hendak memasuki perairan.

Namun Yos Soedarso dan pasukannya dengan menggunakan KRI Macan Tutul yang berukuran jauh lebih kecil mampu menghadang kapal Karel Doorman.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved