Kuliner
Ladu, Kudapan Khas Kota Batu yang Kini Tak Banyak Diproduksi
Ladu berasal dari akronim Langgeng Seduluran, bahasa Jawa itu berarti hubungan persaudaraan yang abadi.
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
Ratih sudah mencoba meminta bantuan ke Pemkot Batu.
Hanya saja, belum ada kabar gembira yang bisa mengembangkan potensi Ladu.
Meski begitu, Ratih tetap berusaha keras melakoni usahanya.
Dia berharap pemerintah bisa serius dalam membantu UMKM Ladu di desanya, selain agar kesejahteraan warga, juga menjadikan Ladu sebagai ikon Kota Batu.
"Harapannya ya kalau bisa berkembang lebih baik lagi, bisa jadi pabrik. Dari dulu bikinnya ya di rumah," ujarnya.
Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata merespon positif keinginan warga agar Ladu bisa terus dikenal.
Kepala Dinas Pariwisata Batu, Arief As Siddiq mengatakan, pihaknya telah merancang agenda atau festival Kampung Ladu.
Menurutnya, Desa Gunungsari memiliki banyak potensi wisata dan kuliner.
"Sebelumnya sudah ada festival susu di Brau," ujar Arief.
Dengan adanya festival, Ladu diharapkan bisa dikenal banyak orang. Masyarakat juga akan berkesempatan menikmati langsung proses pembuatan Ladu.
Untuk mendapatkan rasa yang pas, warga meyakini bahwa Ladu harus diolah dengan resep dan teknik tradisional.
Seperti pada proses membuat adonannya yang harus ditumbuk hingga halus di sebuah batu lumpang.
"Kami buat gapura yang memuat informasi tentang Ladu. Ke depannya, kami upayakan untuk hal lainnya," ujar Arief.
Menurut Arief, Ladu memiliki potensi tersendiri. Oleh sebab itu harus digarap dengan serius agar mendatangkan untung terutama bagi masyarakat.
BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Proses-pembuatan-Ladu-oleh-warga-yang-masih.jpg)