Selasa, 19 Mei 2026

Kuliner

Ladu, Kudapan Khas Kota Batu yang Kini Tak Banyak Diproduksi

Ladu berasal dari akronim Langgeng Seduluran, bahasa Jawa itu berarti hubungan persaudaraan yang abadi.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/benni indo
Proses pembuatan Ladu oleh warga yang masih menggunakan cara tradisional. 

Ratih Rohaili (36), adalah warga Desa Gunungsari yang masih mempertahankan produksi Ladi.

Ia bersama suaminya menjadi generasi pewaris resep Ladu sejak zaman dulu.

Kini, Ratih bersama enam orang tetangganya tetap aktif memproduksi ladu setiap hari untuk dipasok ke toko oleh-oleh.

Sehari-hari, Ratih bisa memproduksi ladu hingga 50 kilogram.

Jika pesanan ramai, bisa memproduksi 200 bungkus Ladu.

Produk Ladu buatannya banyak dikirim ke kawasan Malang Raya, Sidoarjo hingga Jombang.

Di ujung upayanya mempertahankan Ladu, Ratih punya harapan agar kue ini bisa populer sehingga menjadi ikon Kota Batu.

Diakuinya, tidak mudah untuk mempromosikan Ladu kepada khalayak.

Secara swadaya, Ratih mulai mengembangkan promosi Ladu ke pasaran online.

Ladu berasal dari akronim Langgeng Seduluran, bahasa Jawa itu berarti hubungan persaudaraan yang abadi.

Tidak heran jika dahulu kala, Ladu menjadi buah tangan sehingga bisa mengeratkan persaudaraan.

Selain karena produksinya yang tidak banyak, tidak ada nama produk atau brand yang melabeli Ladu.

Ratih hanya memasukkan Ladu ke dalam plastik tanpa memberinya nama produk.

Tidak adanya nama produk ini membuat ia kesulitan memasarkan produk.

"Ya karena itu kami juga tidak bisa naruh ladu ini ke toko-toko retail maupun oleh-oleh. Masih di seputat sini-sini saja," paparnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved