Liputan Khusus
Restu Merasa Bugar Setelah Jalani Terapi Plasma Konvalesen
Pada hari ketiga perawatan, dokter menyarankannya untuk terapi plasma konvalesen.
Selama dua hari, Restu istirahat total. Dilarang beranjak dari kasur, atau melepas selang infus.
Ia diwajibkan mengonsumsi makanan bergizi dan vitamin yang telah disediakan.
Namun hal itu tak banyak memberikan perubahan. Pada hari ketiga perawatan, dokter menyarankannya untuk terapi plasma konvalesen.
"Waktu itu plasma konvalesen masih sangat jarang. Belum terlalu diberikan karena belum ada uji klinis," jelasnya.
Istilah medis itu diakui jarang terdengar di telinganya.
Setelah ia mencoba mencari tahu dengan menelusurinya di mesin pencari gadget-nya, Restu pun mau.
Namun, terapi itu bukan seperti menu makanan yang tinggal pilih, pesan dan antar.
Ternyata ia baru tahu, bahwa stok plasma darah untuk terapi tak selalu ada.
Pihak RS mengaku, stok plasma darah golongan darah AB yang sesuai dengan tubuhnya kosong.
Restu akhirnya meminta bantuan manager di kantornya untuk membuat broadcast pesan mencari plasma darah konvalesen di media sosial.
Tak butuh waktu lama, dirinya mendapat kantong plasma darah yang dihimpun Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya dan PMI Kabupaten Sidoarjo.
"Saya minta bantuan teman kantor, mencarikan donor plasma. Di facebook (FB) lalu diumumkan secara on-air, tapi tidak disebut namaku," ujarnya.
Setelah dua kali menjalani transfusi terapi plasma, Restu mulai merasakan efek kesembuhannya.
Suhu tubuhnya yang sebelumnya meninggi mulai berangsur turun menjadi normal. Kebugaran tubuhnya mulai pulih.
Ia merasakan ringan, meski masih diharuskan berbaring di kasur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kantor-pmi-kota-kediri.jpg)