Breaking News:

Liputan Khusus

Erlyanti Bersyukur Sembuh dari Covid-19 Setelah Menjalani Terapi Plasma Konvalesen

Erlyanti merasa bersyukur sembuh dari penyakit infeksi Covid-19 setelah menjalani terapi plasma konvalesen.

surya.co.id/febrianto ramadani
Mantan pasien covid-19 sedang mendonorkan plasma darah konvalesennya di UTD PMI Surabaya, Jumat (22/1/2021). 

Pengalaman sembuh dari Covid-19 juga membuat Paino (47), warga Sidoarjo, tak ingin berpangku tangan.

Pria kelahiran Yogyakarta itu sadar betul, pandemi Covid-19 tak bisa sirna, manakala mengandalkan kekuatan tenaga kesehatan (nakes) semata.

Sebagai penyintas Covid-19, mendonorkan darah plasma yang berguna terapi plasma konvalesen, adalah cara yang tepat, bagi Paino.

Itulah yang membuat karyawan pabrik kemasan kopi di Rungkut Surabaya itu, tak pernah kapok mendonorkan plasma darahnya.

Sejak September 2020 silam hingga Senin (18/1/2021), ia terhitung sudah lima kali mendonorkan darahnya.

"Aku ingin coba bantu teman-teman yang kena Covid-19. Sekali donor ternyata enak, ya terus berjalan," katanya, Jumat (22/1/2021).

Paino mengaku ingin sedikit membantu upaya nakes menyembuhkan para pasien Covid-19, melalui donor plasma konvalesen.

Itulah mengapa dirinya tak pernah takut harus rutin setiap dua pekan sekali datang ke Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya."Saya enggak takut," jelasnya.

Meskipun sempat muncul kekhawatiran dari pihak keluarganya lantaran seringnya ia mendonorkan darah pascasembuh dari Covid-19, Paiono berupaya memberikan edukasi dan pengertian bahwa yang dilakukannya tidak membahayakan kondisi kesehatannya.

"Keluarga tanya kok donor terus, apakah enggak apa-apa. Ya enggak apa-apa, ya namanya bantu teman sakit kena Covid-19," terangnya.

Mengenai efek samping pascadonor plasma konvalesen, Paino mengaku tak merasakannya.

Hanya saja kondisi lemas dan letih acap muncul dua hari pascadonor.
Namun itu diakuinya lumrah sebagai reaksi fisiologi manusia yang baru saja diambil darahnya.

"Cuma agak lemas dikit 1-2 hari, itu biasa. Istirahat cukup, makan bergizi, udah cukup," ungkapnya.

Paino tak menampik, menjadi pendonor plasma konvalesen tak segampang donor biasa.

Tahapan uji darah untuk memastikan ketersediaan antibodi yang paling memakan waktu.

Paling tidak tahapan itu berlangsung dua hari. Manakala kadar antibodi dalam darah telah dipastikan ada. Seorang calon pendonor akan dihubungi lebih lanjut oleh petugas PMI, keesokan harinya.

"Paling tidak nunggu 12 jam, untuk sampling. Terus besoknya dikasih tahu apakah sudah memenuhi syarat atau tidak," jelasnya.

Awal mula keinginannya berdonor muncul setelah mendapat informasi dari seorang relawan penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Surabaya.

"Diarahkan sama petugas di RSLI. Dikasih tahu di grup, ada imbauan pengumuman itu," pungkasnya. (Febrianto Ramadani/Luhur Pambudi)

Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved