Senin, 20 April 2026

Liputan Khusus

Erlyanti Bersyukur Sembuh dari Covid-19 Setelah Menjalani Terapi Plasma Konvalesen

Erlyanti merasa bersyukur sembuh dari penyakit infeksi Covid-19 setelah menjalani terapi plasma konvalesen.

surya.co.id/febrianto ramadani
Mantan pasien covid-19 sedang mendonorkan plasma darah konvalesennya di UTD PMI Surabaya, Jumat (22/1/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Erlyanti merasa bersyukur sembuh dari penyakit infeksi Covid-19 setelah menjalani terapi plasma konvalesen.

Kini perempuan berusia 56 ini merasa merasakan tubuhnya tidak ada yang sakit alias bugar kembali.

"Saya menerima donor plasma 17 Januari lalu. Ketika saya dirawat di rumah sakit, saya dapat tawaran dari dokter dan bilang mau masuk plasma. Saya kan orang awam, nggak tahu apa apa, yang penting sembuh. Ternyata pemberian plasma sangat cepat untuk penyembuhan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19," ujar Erlyanti, Sabtu (23/1/2021).

Ia menceritakan, ia tertular dari suaminya yang meninggal akibat Covid 19 tanggal 4 Januari lalu.

Erlyanti kemudian melakukan swab test 5 Januari dan hasilnya positif.

"Tanggal 6 saya demam suhu tinggi. Saya dinyatakan sembuh dari Covid 19 tanggal 19 Januari," tuturnya.

Meski sudah dinyatakan sembuh, Erlyanti tetap menerapkan protokol kesehatan di rumah.

Di tengah kesibukannya sebagai penjaga toko, ia masih rutin berjemur setiap pagi dan rutin mengonsumsi vitamin.

Baca juga: Jadwal Puasa Sunnah Januari 2021, Besok Puasa Ayyamul Bidh Hari Pertama Berikut Niat dan Keutamaannya

Baca juga: Soal dan Jawaban TVRI SD Kelas 4 Hari Ini, Senin 25 Januari 2021: Mengenal Fungsi Roda Lebih Jauh

Baca juga: 7.760 Vaksin Covid-19 akan Tiba di Kabupaten Lumajang, Tahap Pertama Diberikan pada 3.851 Nakes

Baca juga: Pendaftaran Kartu Prakerja 2021 Gelombang 12 Segera Dibuka, Daftar di Prakerja.go.id: Awas Penipuan

Terapi plasma darah konvalesen kini makin makin populer, sebagai salah satu upaya meringankan gejala pasien yang sedang berjuang melawan Covid-19.

Beberapa penyintas tergerak hatinya mendonorkan plasma darah konvalesen, untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Alternatif itu dinilai bisa memberikan antibodi lebih kebal terhadap keganasan virus corona.

Tono, seorang marketing bank di Surabaya, mengaku baru pertama kali mendonorkan plasma darah konvalesen.

Pria berusia 27 tahun ini juga merasa prihatin, karena pandemi Covid-19 masih belum selesai.

"Ada teman saya share di sosmed bahwa temannya butuh donor konvalesen beberapa hari yang lalu. Saya lihat golongan darahnya sama, AB plus. Kemudian saya coba kirim pesan ke dia. Lalu saya dihubungkan langsung sama orang yang membutuhkan donor," jelas Tono, Jumat (22/1/2021).

Tono juga menambahkan, ia terpapar virus corona awal November lalu dengan gejala ringan, ia tertular dari temannya.

Tono akhirnya bisa sembuh setelah menjalani isolasi mandiri selama 10 hari.

"Selama 10 hari saya minum vitamin dan obat-obatan. Hari ke-10 saya swab PCR lagi dan dinyatakan negatif," ungkapnya.

Sebelum donor plasma, Tono mendaftar diri ke UTD PMI Surabaya mengikuti sampling terlebih dahulu.

Dokter menyarankan dia agar banyak minum air putih, mengurangi makan gorengan, dan beristirahat yang cukup.

"Terus dilihat imunitasnya juga dan ternyata saya dinyatakan memenuhi syarat," ucap Tono.

Tono berharap pandemi ini cepat berlalu serta plasma konvalesen yang ia donorkan bisa bermanfaat bagi para pasien.

"Saat ini banyak orang parno, takut ketular. Padahal proses donor plasma itu tidak menimbulkan covid. Soalnya penularan virus corona lewat droplet. Ada yang malas membagikan (plasma) dengan alasan privasi," tuntas Tono.

Sepuluh Kali Donor Plasma Konvalesen

Sementara itu, Luki Handoko menegaskan, ia melakukan donor plasma konvalesen lantaran panggilan hati.

Karyawan swasta asal Tandes berusia 42 tahun ini telah mendonorkan plasma konvalesennya sebanyak 10 kali.

"Pertama donor tanggal 10 Juli 2020 dan terakhir 11 Desember 2020. Waktu itu, rutin 14 hari sekali. Kalau saat ini sudah tidak bisa, karena kadar imunitas hanya untuk diri sendiri," kata Luki ketika ditemui di Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Sabtu (23/1/2021).

"Sebelum donor perbanyak minum air putih, hindari makan gorengan. Untuk sampling, puasa sama minum vitamin," imbuhnya.

Ketika donor plasma untuk pertama kalinya, Luki merasakan sedikit efek samping seperti kebas di bagian bibir dan kedinginan telapak tangan dan kaki.

"Setelah dua tiga kali tidak merasakan efek apa-apa. Mungkin tubuh saya masih beradaptasi," tuturnya.

Luki berpesan, para penyintas Covid-19 tidak perlu takut mendonorkan plasma konvalesennya.

Karena apa yang dibayangkan atau ditakutkan tidaklah sama dengan prosesnya. "Prosesnya tidak sakit," ucapnya.

Pengalaman sembuh dari Covid-19 juga membuat Paino (47), warga Sidoarjo, tak ingin berpangku tangan.

Pria kelahiran Yogyakarta itu sadar betul, pandemi Covid-19 tak bisa sirna, manakala mengandalkan kekuatan tenaga kesehatan (nakes) semata.

Sebagai penyintas Covid-19, mendonorkan darah plasma yang berguna terapi plasma konvalesen, adalah cara yang tepat, bagi Paino.

Itulah yang membuat karyawan pabrik kemasan kopi di Rungkut Surabaya itu, tak pernah kapok mendonorkan plasma darahnya.

Sejak September 2020 silam hingga Senin (18/1/2021), ia terhitung sudah lima kali mendonorkan darahnya.

"Aku ingin coba bantu teman-teman yang kena Covid-19. Sekali donor ternyata enak, ya terus berjalan," katanya, Jumat (22/1/2021).

Paino mengaku ingin sedikit membantu upaya nakes menyembuhkan para pasien Covid-19, melalui donor plasma konvalesen.

Itulah mengapa dirinya tak pernah takut harus rutin setiap dua pekan sekali datang ke Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya."Saya enggak takut," jelasnya.

Meskipun sempat muncul kekhawatiran dari pihak keluarganya lantaran seringnya ia mendonorkan darah pascasembuh dari Covid-19, Paiono berupaya memberikan edukasi dan pengertian bahwa yang dilakukannya tidak membahayakan kondisi kesehatannya.

"Keluarga tanya kok donor terus, apakah enggak apa-apa. Ya enggak apa-apa, ya namanya bantu teman sakit kena Covid-19," terangnya.

Mengenai efek samping pascadonor plasma konvalesen, Paino mengaku tak merasakannya.

Hanya saja kondisi lemas dan letih acap muncul dua hari pascadonor.
Namun itu diakuinya lumrah sebagai reaksi fisiologi manusia yang baru saja diambil darahnya.

"Cuma agak lemas dikit 1-2 hari, itu biasa. Istirahat cukup, makan bergizi, udah cukup," ungkapnya.

Paino tak menampik, menjadi pendonor plasma konvalesen tak segampang donor biasa.

Tahapan uji darah untuk memastikan ketersediaan antibodi yang paling memakan waktu.

Paling tidak tahapan itu berlangsung dua hari. Manakala kadar antibodi dalam darah telah dipastikan ada. Seorang calon pendonor akan dihubungi lebih lanjut oleh petugas PMI, keesokan harinya.

"Paling tidak nunggu 12 jam, untuk sampling. Terus besoknya dikasih tahu apakah sudah memenuhi syarat atau tidak," jelasnya.

Awal mula keinginannya berdonor muncul setelah mendapat informasi dari seorang relawan penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Surabaya.

"Diarahkan sama petugas di RSLI. Dikasih tahu di grup, ada imbauan pengumuman itu," pungkasnya. (Febrianto Ramadani/Luhur Pambudi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved