Breaking News:

Kilas Balik

Kisah 8 Warga Susah Payah & Tanpa Makan Gali Sumur Lubang Buaya Tempat Jasad 6 Jenderal Ditimbun PKI

Kisah 8 warga susah payah dan tanpa makan minum menggali sumur Lubang Buaya yang menjadi tempat penemuan jasad 6 Jenderal TNI AD dan perwira pertama.

Editor: Iksan Fauzi

“Terus ada serombongan datang bilang persisnya di sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.

Usaha Yusuf dan bersama terus menggali sumur tersebut sampai akhirnya waktu gelap.

Di antara mereka pun sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

Jenderal Ahmad Yani dan Monumen Pancasila Sakti yang dibangun untuk mengenang tragedi G30S/PKI.
Jenderal Ahmad Yani dan Monumen Pancasila Sakti yang dibangun untuk mengenang tragedi G30S/PKI. (tribunnews/istimewa)

“Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,” jelasnya.

Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi.

“Dan dari kejauhan kita melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,” tandasnya.

Para tentara akhirnya pergi dari Lubang Buaya usai menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Saat itu, Yusuf dan teman-temannya tak tahu bahwa sumur yang mereka gali itu adalah tempat pembuangan jasad enam jenderal dan satu pamen korban keganasan PKI.

Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, ketika salah satu dari temen Yusuf harus menyumpal hidung dengan bubuk kopi bahkan ada juga temannya yang kesurupan.

Kawan Yusuf yang bernama Pane terus menangis setelah menemukan potongan tubuh mayat.

Dalam buku biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009) dikisahkan, saat RPKAD bersama warga melakukan penggalian, ditemukan timbunan dedaunan segar, batang pohon pisang dan pohon lainnya.

Ilustrasi - Biodata Jenderal MT Haryono, Tewas Ditembak Saat Melawan Pasukan Cakrabirawa Peristiwa G30S/PKI
Ilustrasi - Biodata Jenderal MT Haryono, Tewas Ditembak Saat Melawan Pasukan Cakrabirawa Peristiwa G30S/PKI (Kompas.com)

Mereka semakin yakin lubang itu adalah lubang jenazah para jenderal ditimbun karena menemukan potongan kain yang biasa digunakan sebagai tanda oleh pasukan Batalion Infanteri 454/Banteng Raider dari Jawa Tengah dan Batalion Infanteri 530/Raiders dari Jawa Timur.

Ketika kedalaman sudah 8 meter, tercium bau busuk.

Malam tanggal 3 Oktober 1965 semakin larut, ketika seorang personel RPKAD berteriak menemukan kaki yang tersembul ke atas dari dalam timbunan.

Sintong Panjaitan meminta penggalian terus dilakukan hingga jenazah para jenderal terlihat agak jelas di kedalaman 12 meter.

Temuan itu langsung dilaporkan kepada Lettu Feisal Tanjung, Komandan Kompi Tanjung Batalion 2 Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan diteruskan kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Lettu Feisal Tanjung yang ikut terlibat operasi penumpasan PKI itu belakangan menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (kini Tentara Nasional Indonesia/TNI).

Sementara juniornya Sintong Panjaitan, pernah menjabat sebagai Penasihat Presiden Bidang Pertahanan dan Keamanan di era Presiden BJ Habibie pada 1999.

Berikut cerita lengkap dari Yusuf : 

Saya salah satu yang ikut membantu menggali sumur Lubang Buaya. tapi sudah 34 tahun lalu.

Waktu tahun 1965, usia saya 16 tahun.

Saya ikut membantu menggali sumur tua. Ada 8 orang yang diminta menggali. 

Waktu 1965, saya menjadi anggota hansip Kelurahan Keling.

Kondisi Lubang Buaya dulu beda sama sekarang.

Dulu tidak ada lampu. 

Sekitar jam 15.00 WIB, saya ada di rumah. karena orang tua (almarhum) lagi sakit. 

Datang Lurah Keling bawa Jeep ke rumah dan menanyakan keberadaan saya.

"Ada Yusuf," tanyanya.

Dia minta saya naik mobil.

Waktu itu saya dalam keadaan masih pakai celana kolor kaus kutang.

Kita berangkat.

Sekitar setengah 16.00 WIB, saya lihat sudah ada Bang Ambar, Suparyono, Mahmud, Mawi.

Saya datang sama Pane.

Saya lihat, mereka lagi macul-macul kebun pohon pisang.

Begitu Lurah Keling ngedrop saya, dia langsung pergi.

Dia tidak menyuruh apa-apa.

Di sana sudah ada tentara.

Kita langsung gabung.

Saya macul-macul.

Tak lama, ada seorang lagi bernama Wataki datang sama tentara. 

Kabarnya mereka baru lihat kuburan. Habis ditanya-tanya sama tentara.

Wataki kemudian bergabung. 

Kita gali-gali sampai rata.

Terus, ada gundukan pohon pisang.

Dalam hati saya ingat, ini kan sumurnya kakang kok bentuknya pohon pisang.

Ternyata kita gali kok lebar. berbentuk seperti sumur.

Lebar kita gali 4 meter. Akhirnya ya sumur lah. 

Begitu mulai digali, kita 8 orang.

Di sumur ada sayur-sayur dan kain merah kuning hijau.

Lalu ada serombongan tentara lagi datang.

Persisnya di sini, di sumur ini.

Waktu itu dia berpakaian dinas doreng dan cokelat.

Terus kita disuruh gali sama tentara.

Setiap kali merintah, sangkurnya terlihat.

Kita lalu gali terus dan makin dalam.

Begitu sampah tak mampu kita lempar ke atas, kita semua bingung.

Lalu Wataki berinisiatif, kalau gitu pakai kerekan.

Tentara lalu bawa tambang kerekan dan ditunjang dua bambu.

Ada kira-kira 6-7 meter sampah dikerek.

Kita-kita ini, dari 8 orang, saya paling muda. 

Saya ditugasin oleh Bang Ambar menggali lagi.

Dalamnya kira-kira turun 9 meter.

Saya dengan Mahmud gantian setiap 20 ember mengangkut sampah.

Sekitar setengah 18.00 WIB, turun hujan. 

Kita tetap siduruh menggali.

Di dalamnya sumur, masih ada daun-daunan kering, abu, kayu2 kecil, sampah basah lagi.

Makin yakin, ini urukan baru.

Tentara memerintahkan terus menggali.

Pokoknya lanjut cari sampek ketemu. 

Kita nurut dech,

Turunya ke sumur kita tidak ada alat.

Kita tetap turun. Bentuk lubangnya makin mengerucut. 

Di dalamnya ada potongan pohon pisang, pepaya dan sampah lagi. 

Sekitar pukul sebelas malam. makin bau amis.

Kita makin yakin. 

Setengah 12, pohon pisang diikat dan diangkat.

Mulai siang menggali hingga malam, kita tidak makan dan minum. tentara juga begitu.

Begitu habis mengerek pohon, Suparyono teriak. 

Dia yang menemukan pertama jasad dengan menyentuh jari-jari ada lima.

Suparyono lalu naik dan pingsan.

Setelah menemukan itu, sempat lampu mati.

Begitu lampu hidup, Mawi disuruh turun lagi.

Tentara lalu bilang, kalau gitu yang kita cari sudah ketemu.

Kemudian, kami disuruh istirahat jam setengah 01.00 WIB malam.

Besok kabarnya dilanjutkan.

Kita dibawa istirahat di rumah sebelah (dekat sumur Lubang Buaya).

Sambil ngobrol, kita dikasih kopi dan makan, tapi nasi sudah basi.

Kita diinterogasi tentara, mengapa kemari dan ngapain.

Kata Yusuf, kita kemari disuruh lurah, katanya memberulin jembatan. 

Yang lebih banyak dialog dan nanya adalah Mahmud.

Dia orangnya sudah tua dan agak berani.

Hari itu, kita istirahat tanpa mandi.

Subuh saya buang air dan diantar tentara.

Saat itu, sepanjang menuju sungai, ada tentara tidur-tidur.

Hampir setiap 1 meter ada tentara tidur.

Jam 07.00 WIB (3 Oktober 1965), kita disuruh istirahat lagi di sebuah rumah lain.

Jam 08.00 WIB kita lihat banyak panser masuk dan pasukan hitam-hitam meneruskan penggalian.

Jam 10 pagi, pasukan itu mengabarkan mengangkat mayat. 

Jam itu tak ada makanan. 

Seorang temen saya nemu nangka di dekat rumah jam 11.

Sekitar jam 13, panser mulai berangkat meninggalkan lokasi.

Jam 12 berangkat berurutan.

Kita sampai jam 15 di situ.

Jam 17 tentara bersih.

Sampai setengah 6 malam, tinggal 5 orang tentara.

Jam 7 malam, kita nanya ke tentara ngapain lagi.

Dan tentara jawab tidak tahu juga.

Pada kepemimpinan Pak Try Sutrisno, saya mendapat penghargaan dan diundang di acara memperingati hari Kesaktian Pancasila.

Jasad 6 Jenderal 1 perwira pertama

Kisah tentang kekejaman PKI mengemuka pada setiap akhir bulan September dan awal bulan Oktober.

Tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, Indonesia diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat yang dikenal dan dikenang dengan nama Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Kudeta gagal itu menyebabkan gugurnya sejumlah perwira tinggi AD, anggota Brimob, serta putri AH Nasution, Ade Irma Suryani.

Jasad 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat ditemukan di dalam sumur tua yang dikenal dengan nama lubang buaya.

Dua jenderal gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya, mayatnya diseret ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya, yaitu:

1. Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)

2. Mayjen TNI Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya, mayatnya diseret ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya
Lima lainnya diculik dan mengalami penyiksaan sebelum ditembak dan mayatnya dikubur di dalam Lubang Buaya, yaitu :

3. Letjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)

4. Letjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD Bidang Perencanaan dan Pembinaan)

5. Letjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Bidang Intelijen)

6. Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD)

7. Kapten Pierre Tendean (ajudan AH Nasution).

Jenderal TNI Abdul Haris Nasution berhasil meloloskan diri walau kakinya terkena peluru.

Seperti tertuang dalam buku biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), selain tujuh perwira tinggi dan menengah itu, pasukan yang ditugaskan menculik jenderal itu juga menembak mati Aipda Karel Satsuit Tubun (anggota Brimob yang bertugas di rumah Wakil Perdana Menteri II Dr J, Leimena).

Ade Irma Nasution, putri bungsu AH Nasution, juga menjadi korban dan meninggal dunia akibat tembakan personel pasukan Pasopati Tjakrabirawa.

Di luar Jakarta, oknum pasukan Batalion L juga menculik Brigjen TNI Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas) dan Kolonel Raden Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Kodam VII/Diponegoro) dari rumah dinas masing-masing.

Keduanya disiksa dan dibunuh, lalu dimasukkan ke sebuah lubang di tengah rawa di belakang Markas Batalion L di Kentungan, sekitar 6 kilometer sebelah utara Kota Yogyakarta.

Sebagian artikel ini telah tayang di Serambi.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved