Selasa, 5 Mei 2026

Berita Banyuwangi

Susah Payah Kabupaten Banyuwangi Perangi Sampah Plastik, Hasilnya

Di Banyuwangi berbagai upaya dilakukan untuk memerangi sampah plastik. Mulai pelarangan air mineral kemasan plastik hingga sampah dikonversi emas

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id/Haorrahman
Pasar Wit-witan di Banyuwangi yang tidak boleh ada wadah plastik, sebagai upaya pengurangan sampah plastik. 

Menurut Anas banyak alternatif penggunaan kantong selain plastik seperti tas kain, keranjang belanja dari bambu dan bahan lainnya yang bisa dipakai berulang kali.

Demikian juga mewajibkan pengusaha retail untuk  memasang imbauan di area usahanya yang mengarah pada pengurangan penggunaan kantong plastik.

Di tiap sekolah juga diberlakukan hal serupa. Bahkan, Pemkab Banyuwangi akan memberikan reward pada sekolah yang bersih dari sampah plastik.

”Kami menyadari meninggalkan penggunaan kantong plastik sepenuhnya masih sulit. Namun yang terpenting perlu dibangun pola pikir dan kebiasan untuk lebih peduli pada lingkungan. Pengurangan sampah plastik adalah kuncinya,” kata Anas.

Di Banyuwangi berdasar hasil studi lingkungan komponen sampah warga, terdiri atas sampah plastik 25 persen dan 75 persen sampah organik, dari produksi sampah rumah tangga di Banyuwangi yang setiap harinya mencapai 1.125 ton/hari.

“Kami berharap adanya kesadaran warga, mari kita semua memulai dari diri sendiri dan keluarga. Minimal mengganti kantong plastik dengan kantong yang lebih ramah lingkungan, misalnya membawa tas dari rumah saat belanja. Biasakan juga anak-anak kita dan kita sendiri membawa tumbler yang bisa diisi ulang,” harap Anas.

Raup Untung Rp 25 juta per Bulan

Banyuwangi juga bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO) dunia, yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria, Systemiq.

Organisasi ini melakukan pendampingan pengelolaan sampah laut, dengan program bernama STOP atau Stopping The Tap On Ocean Plastic, di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, merupakan kawasan pelabuhan ikan terbesar di Pulau Jawa, dan sebagai penghasil ikan Lemuru terbesar nomor dua di Indonesia.

Diletakkan di Muncar karena kawasan ini sejak lama dikenal dengan sampah plastik yang menumpuk di pantai dan sungai-sungainya. 

Selain sampah bawaan dari laut, terdapat budaya masyarakat secara turun temurun yang membuang sampah ke laut dan sungai.

Program ini dirintis sejak Februari 2018. Di tahun pertama, penanganan sampah difokuskan Desa Tembokrejo, Muncar, karena desa tersebut telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R).

Program STOP (Stopping The Tap On Ocean Plastic) di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, menangani sampah di kawasan Pelabuhan Ikan Muncar.
Program STOP (Stopping The Tap On Ocean Plastic) di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, menangani sampah di kawasan Pelabuhan Ikan Muncar. (SURYA.co.id/Haorrahman)

Sumarto, mantan Kepala Desa Tembokrejo, yang bekerja sama dengan Systemiq, mengatakan awal menjalankan program ini banyak dicemooh oleh masyarakat.

 “Awalnya kami banyak diremehkan namun kami terus bekerja saja. Sebagai kades saya tak kurang akal, setiap warga yang mengurus administrasi saya wajibkan untuk membayar iuran sampah. Kalau tidak mau, tidak saya keluarkan. Pelan-pelan dengan aktif sosialisasi, kini terdapat 8.900 warga Desa Tembokrejo telah aktif membayar iuran sampah,” cerita Sumarto.

Selain mengajak warga untuk berhenti membuang sampah di sungai dan laut, mereka mendampingi warga melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) melakukan pengelolaan persampahan secara profesional.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved