Pilkada 2018
Khofifah akan Libatkan Akademisi dalam Pembentukan Tim Transisi Pemerintahan
Tim transisi ini yang nantinya akan mempersiapkan sebelum nanti pemerintahan Khofifah bersama Emil Elestianto Dardak dimulai.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | SURABAYA - Meski belum ditetapkan secara resmi oleh KPU sebagai pemenang Pilkada Gubernur Jawa Timur 2018, cagub yang unggul dalam hitung cepat, Khofifah Indar Parawansa, mulai bersiap untuk menjlankan estafet pemerintahan.
Dalam wawancara bersama Surya, Khofifah menyebutkan bahwa saat ini dirinya mulai mempersiapkan adanya tim transisi.
Tim transisi ini yang nantinya akan mempersiapkan sebelum nanti pemerintahan Khofifah bersama Emil Elestianto Dardak dimulai.
"Pelantikannya Februari sampai Maret. Tapi tim transisi ada, kami mulai menyiapkan. Dua hari ini sudah rapat tentang itu," kata Khofifah, Selasa (3/7/2018).
Ia menyebutkan tim transisi ini akan bekerja secara bertahap. Di awal ini, tim transisi, bukan melulu diambilkan dari tim pemenangan. Melainkan juga melibatkan para akademisi dari sejumlah perguruan tinggi.
"Sekarang ini kami melibatkan para akademisi dalam tim transisi. Ke depan nanti baru akan melibatkan dari para praktisi," ucap Khofifah.
Menurutnya, melibatkan para akademisi akan lebih efektif dan efisien dalam menjalankan penyiapan untuk estafet pemerintahan ke depan. Ia mengatakan juga akan terlibat langsung dalam tim transisi tersebut.
Lebih lanjut, terdapat sejumlah program terkait ekonomi yang ingin segera direalisasikan oleh Khofifah. Terutama dalam hal menghilngkan ketimpangan kemiskinan di Jawa Timur.
"Rekolasi induatri ke daerah pinggiran asal tidak mengurangi ketahanan pangan daerah itu penting dilakukan. Agar tidak semua warga desa itu ke kota, dan terjadi urbanisasi," paparnya.
Ia mengatakan ketimpangan di desa mencapai 15,58 persen, sehingga butuh langkah cepat dari pemerintah agar masyarakat di desa tak lagi mengalami kemiskinan yang berat.
Pemerintah memiliki pemetaan daerah di luar ring 1 dengan kemiskinan tertinggi.
"Maka perusahaan industrial yang memiliki skala besar dan punya investasi pengembangan di daerah harus disebar dan didistribusikan di sepuluh kabupaten kemiskinan terendah ini di Jawa Timur," jelasnya.
Kue besar di kota mau tidak mau harus dibagi dengan wilayah pedesaan. Khofifah sendiri mengaku sudah berkomunikasi dengan Forkas terkait rencana ini, dan sejatinya mereka sudah siap untuk itu.
"Ternyata mereka (Forkas) terkendala sumberdaya manusia. Mereka butuh 1.700 tenaga yang tersedia hanya 300. Itu masalahnya," ungkapnya.
Maka ia tawarkan untuk membuka program magang di perusahaan. Yang nantinya akan konek dengan kurikulum di SMK agar program magang bisa setara dengan satu semester pelajaran di kelas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/khofifah_20180629_114815.jpg)