Kamis, 9 April 2026

Pilkada 2018

Kunjungi Jombang, Khofifah Disambati Perajin Cor Kuningan soal ini

Pelaku usaha di Jawa Timur,a khususnya perjin cor di Jombang, ternyata sedang menghadapi permasalah pelik.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya/fatimatuz zahro
Cagub Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengamati hasil kerajinan cor kuningan di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Kamis (29/3/2018). 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Pelaku usaha di Jawa Timur ternyata sedang menghadapi permasalah pelik. Khususnya adalah perajin cor kuningan di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Perajin di sini sedang mengeluhkan masalah harga bahan baku logam kuningan yang terus melambung. Padahal bahan baku tersebut bukan impor melainkan didapatkan dari pengepul barang rongsokan di kawasan Jawa Timur sendiri.

Sebabnya adalah harga bahan baku logam kuningan terus fluktuasi mengikuti nilai tukar dolar. Lantaran row material ini biasa diekspor pengepul ke luar negeri.

Hal tersebut terungkap dari navigasi program yang dilakukan oleh calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa di kampung pengrajin cor kuningan Mojotrisno, Jombang, Kamis (29/3/2018).

Istono (60), salah satu pengrajin cor kuningan generasi kelima ini mengatakan, per hari, lebih dari 100 produk kerajinan kuningan yang dihasilkan di tempatnya. Perminggu, kebutuhan bahan baku logam kuningan yang ia butuhkan sampai 5 ton.

"Perkilonya harga bahan baku logam kuningan saat ini Rp 60 ribu perkilogramnya. Padahal sebelumnya hnya separonya, harganya fluktuatif mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar," kata Istono.

Total ada sebanyak 150 orang pengrajin cor logam kuningan di kampung ini. Masing-masing memiliki tenaga kerja sebanyak dua sampai enam orang. Sedangkan usaha milik Istono, yang usaha terbesar di kampung itu, jumlah tenaga kerjanya mencapai 30 orang.

"Kami berharap harga bahan baku logam ini bisa ikut diatur oleh pemerintah. Agar tidak fluktuatif terus, terus naik," kata pengrajin yang sudah mendirikan usaha sejak tahun 1976 ini.

Produk cor logam yang dihasilkan oleh kampung Mojotrisno ini sangat bermacam-macam bentuk. Mulai terkecil seharga Rp 40 ribu sampai yang paling mahal Rp 30 juta.

"Saya berharap Bu Khofifah bisa mengatasi masalah bahan baku ini. Harganya jangan terus naik, mahal," kata Istono.

Menanggapi curhatan dan permasalahan tersebut, Khofifah menggapi masalah ini secara serius. Disampaikan Khofifah, ekspor row material atau bahan baku sebaiknya tidak dilakukan jika dalam negeri bisa menjual dalam bentuk end product.

"Tadi saya dapat info langsung dari para pengrajin. Sebaiknya, memang row material itu tidak diekspor, saya rasa komitmen pemerintah ke arah sana kuat sekali," kata Khofifah.

Terutama yang ditekankan oleh presiden Jokowi, bahwa jangan sampai Indonesia menjual row material. Karena pengrajin di dalam negeri sudah mampu mennjual dalam bentuk sial jual atau end product.

Bahkan di Mojotrisno ini sampai bertahan saat ini generasi kelima. Dan produknya menjadi unggulan dan diterima di banyk benua. Amerika, Autralia dan Eropa.

"Yang mengatur masalah ini adalah Kementerian Perdagangan. Regulasinya ada di sana, nanti saya akan membantu komunikasikan ke pemerintah pusat, dan memberikan rekomendasi agar row material tidk lagi diekspor," kata Khofifah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved