Minggu, 26 April 2026

Road to Election

KPU Jatim Optimistis Jumlah Pemilih Pemula Bisa Naik Tahun Depan

KPU Jatim tetap menyiapkan sejumlah langkah preventif dalam menggaet pemilih pemula maupun penyandang difabel.

surya/sugiharto
Dari kiri, Aktivis Pemuda, Aryo Seno Bagaskoro, Pengamat dari Unair, Rachmah dan Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito saat dialog terkait Pilgub jatim yang digelar Harian Kompas, Selasa (5/9/2017). Dalam dialog ini juga dijelaskan bagai mana keterlibata KPU untuk mensukseskan dan mensosialisasikan pada warga terkait calon yang ada. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemilih pemula dan penyandang difabel diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pesta demokrasi bertajuk pilkada serentak yang rencananya akan diselenggarakan tahun depan.

Di antaranya, dengan ikut memberikan suara kepada kandidat potensial yang diinginkannya.

Sayangnya, acapkali dalam beberapa gelaran pesta demokrasi yang dilakukan terakhir, antusias pemuda maupun difabel dinilai masih cukup rendah.

"Jumlah pemilih pemula yang kami asumsikan berada di kisaran usia 25 tahun itu jumlahnya cukup kecil. Di bawah tiga persen dari total jumlah pemilih yang mencapai 31,5 juta suara," ujar Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jatim, Eko Sasmito, dalam acara Bincang Publik yang Digelar Group Media Kompas Gramedia Jawa Timur, di Harian Kompas, Selasa (5/9/2017).

Pun demikian dengan penyandang difabel yang jumlahnya tak sampai satu persen dari total jumlah pemilih.

Menariknya, meskipun mengetahui kisaran jumlah pemilih, Eko enggan melakukan pemetaan terhadap tingkat partisipasinya.

KPU berdalih banyaknya tugas petugas Panitia Pemungutan Suara saat hari H pencoblosan tak memungkinkan melakukan pemetaan tersebut.

"Pemetaanya sangat rumit. Kami pernah melakukannya, namun tak dapat detail," jelasnya.

Padahal, dari pemetaan jumlah partisipasi ini, KPU bisa mengetahui tingkat keberhasilan pilkada sekaligus menyiapkan strategi untuk pelaksanaan berikutnya.

Meskipun demikian, KPU Jatim tetap menyiapkan sejumlah langkah preventif dalam menggaet pemilih pemula maupun penyandang difabel.

Khususnya untuk pemilih pemula, Eko menilai bahwa potensi pemuda tak hanya pada peningkatan jumlah suara saja.

"Dengan berpartisipasi di pilkada, baik sebelum, saat, maupun setelah proses pencoblosan, akan sekaligus menjadi pendidikan politik bagi mereka," ujarnya,

"Nantinya, akan berimbas pula pada perilaku politik mereka di masa depan," ujarnya.

Beberapa cara yang dilakukan di antaranya adalah dengan memaksimalkan sosialisasi.

Sosialisasi yang dilakukan bukan hanya dengan mengenalkan calon kandidat serta visi dan misinya, melainkan juga meberikan pengetahuan umum soal pilkada dan politik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved