Road to Election
Aryo Seno Bagaskoro : Ibarat Milih Pacar, Kandidat Harus Punya Trik PDKT dengan Konstituen
Belum mengenal program yang dibawa calon, disebut Seno sebagai alasan utama pemuda engan berpartisipasi di politik.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Aktivis muda, Aryo Seno Bagaskoro, mengungkap alasan masih rendahnya tingkat antusias pemuda terhadap politik.
Belum mengenal program yang dibawa calon, disebut Seno sebagai alasan utama pemuda engan berpartisipasi di politik.
Ketua Aliansi Pelajar Surabaya (APS) ini menilai, sosialisasi program seorang calon dinilai sebagai strategi paling relevan untuk menarik minat pemuda.
Potensi ini yang menurut Seno enggan dimanfaatkan dalam beberapa penyelenggaraan pilkada.
"Calon hanya memasang foto pada banner besar. Tak ada misi maupun program konkret yang dikenalkan. Ini sangat disayangkan," ujarnya pada acara Bincang Publik yang Digelar Group Media Kompas Gramedia Jawa Timur, di Harian Kompas, Selasa (5/9/2017).
Padahal, apabila figur politisi tersebut akrab dengan pemuda, maka potensi untuk bisa menarik suara sangat besar.
Di antaranya dengan memanfaatkan media sosial, yang disebut Seno sebagai salah satu wahana paling pas untuk meraih suara anak muda.
"Ibaratnya, kalau milih gebetan saja, anak muda akan buka Facebook, Instagram, atau pun Twitter mereka," tandasnya.
"Pun demikian pula dengan milih calon kepala daerah. Ia juga akan mencari informasi melalui Medsos masing-masing," tandasnya.
Ia mencontohkan sosok Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang memiliki pengikut ribuan dan mayoritas pemuda.
"Mengapa Pak Ridwan bisa demikian? Karena beliau bisa mengerti apa yang diinginkan anak muda. Beliau memiliki program konkret yang dikenalkan di media sosial. Untuk saat ini, ya memang di sanalah dunianya anak muda," lanjutnya.
Secara spesifik, siswa kelas XI SMAN 5 Surabaya ini menyebut kalangan pemilih pemula sangat konsen terhadap program yang menyangkut mereka.
Bahkan, kalangan pelajar berani untuk meyuarakan pendapat mereka kepada kepala dinas sekalipun, apabila ada program yang dianggap tak relevan dengan mereka.
"Contohnya saja soal PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Saat itu, teman-teman berani "menyerang" akun Facebook milik Pak Saiful (Saiful Rachman, Kepala Dinas Pendidikan Jatim)," tutur Pelajar Pelopor Kota Surabaya 2014 ini.
"Mereka berani berkomentar di akun pak Saiful dengan pendapat ketidaksetujuan mereka. Inilah yang kami sebut bahwa sebenarnya teman-teman memiliki perhatian terhadap program pemerintah," tegas pelajar yang pernah diundang Kementerian Pendidikan Belarusia ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kompas-dialog2_20170907_103403.jpg)