Kamis, 16 April 2026

Berita Mojokerto

Pelajar SMP Ini Punya Hobi Nyleneh, Dia Yakin Suatu Saat Koleksinya Bernilai Tinggi

Dia sangat menikmati perjalanannya, meski hanya mengantar tahu goreng ke Stasiun Wonokromo dengan KA Rapih Dhoho.

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Musahadah
surya/sudharma adi
Abdul Karim (14) saat menunjukkan ratusan tiket KA bekas yang dikoleksinya, karena kesukaan jalan-jalan dengan KA. 

SURYA.co.id I MOJOKERTO - Bagi hampir semua orang, tiket kereta api (KA) tak bernilai ketika sudah digunakan.

Namun bagi remaja bernama Abdul Karim (14), warga Jl Wates 3 Kota Mojokerto, secarik kertas itu sangat bernilai.

Makanya, dia memilih menyimpan dan mengoleksi ratusan tiket yang ditempel di buku tulis.

"Saya memang suka jalan-jalan, apalagi dengan KA. Saya lihat naik KA lebih murah dibandingkan kalau naik sepeda motor, terutama untuk jarak jauh," jelas pelajar SMP ini, Rabu (2/11/2016).

Sejak tahun lalu dia sering diajak orangtuanya ke Surabaya mengunjungi kakak kandungnya, Hasanah (21), yang kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Moda transportasi yang paling sering digunakan adalah KA. Lalu sejak Juni 2016, dia hampir tiga kali seminggu selalu ke Surabaya dengan KA, untuk mengantarkan jualan tahu goreng pada kakaknya.

Dia sangat menikmati perjalanannya, meski hanya mengantar tahu goreng ke Stasiun Wonokromo dengan KA Rapih Dhoho.

"Saya juga sering selfie (swafoto) ketika KA berhenti di stasiun transit. Jalan-jalan dan selfie ini ada kesenangan tersendiri yang tak bisa terucap," tutur remaja yang saat ini kelas 9 SMPN 3 Kota Mojokerto ini.

UPDATE BERITA TERKINI MOJOKERTO, LIKE/SUKA Tribun Mojokerto

Tribun Mojokerto

Dari kesukaan jalan-jalan dengan KA ini, dia lalu berinisiatif menyimpan setiap tiket KA yang tak terpakai. Dia ingin menjadikan tiket KA itu sebagai identitas dan memori bahwa dia pernah ke daerah itu dengan KA itu. Namun, dia berpikir bahwa dengan menyimpan tiket KA bekas itu saja peluang untuk hilang sangat besar.

Makanya, selain hobi mengoleksi tiket KA bekas, dia juga menempelkan tiket di buku. Menyusun dan mengarsip semua tiket KA bekas itu dia lakukan sejak Juni lalu.

"Setiap ada tiket KA bekas di rumah, baik yang punya saya sendiri atau punya saudara, langsung saya simpan. Saking emannya, kalau ada tiket yang kusut, langsung saya seterika biar licin," paparnya.

Dia lalu mengumpulkan tiket KA bekas yang dimilikinya dan keluarganya.

Tiket KA bekas yang dikumpulkan berasal dari berbagai macam KA, mulai dari KA Rapih Dhoho (Surabaya-Blitar), KRD Lokal Surabaya-Kertosono, KA Tumapel, KA komuter, KA Jenggala (Mojokerto-Sidoarjo) hingga KA eksekutif seperti KA Bima, Sri Tanjung, Sancaka, Gaya Baru Malam hingga Bangunkarta. Jika ditotal, lebih dari 500 tiket KA bekas dan 15 tiket KA eksekutif yang dikoleksinya itu yang ditempel di buku tulis.

"Koleksi tiket KA bekas itu mulai Desember 2015 lalu sampai saat ini," ujar remaja yang bercita-cita jadi pengatur perjalanan KA ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved