Senin, 11 Mei 2026

Eksklusif Menjaga Jejak Kemerdekaan

Relakan Miliaran Rupiah Demi Pugar Gedung Bekas Markas Jepang

Mereka juga diwajibkan ikut pelatihan yang rutin diberikan tim konservasi Cagar Budaya Pemkot Surabaya maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
surya/benni indo
Gedung Grha Wismilah di Jalan Dr Soetomo Surabaya yang tetap terawat, Sabtu (15/8/2015). 

Pimpinan NICA, Jenderal Mansergh membalas dengan ultimatum. Rakyat menyerahkan senjata dengan berjalan jongkok dan kedua tangan mengalung di leher.

Melihat ultimatum itu, Inspektur Polisi Moh Jasin dengan berani justru memproklamirkan berdirinya Polri.

Ini dilakukan karena daerah lain, sudah mempersilakan masuknya NICA, termasuk Jakarta, dan Bandung.

“Pada 21 Agustus 1945, Polisi Istimewa Surabaya (Tokubetsu Keisasutai) dipimpin Inspektur Polisi Moh Jasin memproklamasikan Polri. Menurut ultimatum Jenderal Mansergh, arek-arek Surabaya diharuskan meletakkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang di muka gedung ini.” demikian bunyi tulisan pada prasasti yang terpasang dalam gedung ini.

Barisan polisi dipimpin Moh Jasin berperan vital saat meletus Perang 10 Nopember 1945 yang mencengangkan dunia.

Mereka memimpin perampasan senjata dan peralatan perang dari markas-markas Jepang. Senjata rampasan inilah yang kemudian digunakan menghadapi sekutu.

Memasuki kompleks Grha Wismilak, suasana tempo dulu langsung terasa. Barisan lampu-lampu lawas menghiasi taman. Begitu juga di selasar kanan dan kiri gedung.

Tembok gedung tebal dan tinggi, menambah kuat kesan kuno. Kusen kayu besar dan lebar, dengan daun-daun pintu dan jendela cukup besar. “Semuanya masih asli,” kata Henry.

Cuma ada sedikit beda. Pengelola sudah menambahkan kaca bening, yang dipasang mati (permanen) di kusen.

Pemasangan kaca bening ini dilakukan karena seluruh ruang dilengkapi AC. Tapi, daun jendela masih dipertahankan.

Bedanya sekarang adalah saat jendela krepyak kayu dibuka, udara sudah tidak bisa masuk, karena tertutup kaca.

Satu-satunya perubahan besar di lantai satu ini ada pada ubin. Baik selasar maupun dalam ruangan, sudah berlantai marmer.

Warna marmer sebenarnya mirip dengan ubin asli. Tapi, permukaannya terlalu mengkilap dibanding ubin tempo doloe yang ngedop.

Menurut Henry, ubin asli itu diganti karena saat gedung itu dibelinya pada 1993 kondisi ubin sudah rusak parah.

Sebelum beralih ke tangan Wismilak, gedung itu sempat digunakan kantor Polres Surabaya Selatan, sebelum korps baju cokelat itu pindah kantor ke Dukuh Kupang.

Sumber: Surya Cetak
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved