Minggu, 10 Mei 2026

Eksklusif Menjaga Jejak Kemerdekaan

Relakan Miliaran Rupiah Demi Pugar Gedung Bekas Markas Jepang

Mereka juga diwajibkan ikut pelatihan yang rutin diberikan tim konservasi Cagar Budaya Pemkot Surabaya maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
surya/benni indo
Gedung Grha Wismilah di Jalan Dr Soetomo Surabaya yang tetap terawat, Sabtu (15/8/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Banyak jejak kemerdekaan di Surabaya yang sudah hilang dan hanya bisa dilihat dalam catatan dan dokumentasi.

Sebagian lagi bisa dilihat, tetapi kondisinya sudah berantakan, tidak utuh, bahkan hancur.

Beruntung Surabaya memiliki barisan warga peduli bangunan bersejarah.

Mereka rela mengeluarkan miliaran rupiah untuk merawat sekaligus menghidupkannya agar masyarakat bisa merasakan langsung suasana gedung, yang pernah ditempati para pejuang kemerdekaan.

Gedung Grha Wismilak termasuk satu di antara barisan itu. Gedung ini dulu digunakan sebagai markas Polisi Istimewa Jepang sekaligus tempat lahir Polisi Republik Indonesia (Polri).

Gedung ini pula yang menjadi ikon perang Sepuluh Nopember 1945.

Pasukan sekutu NICA lewat ultimatum meminta rakyat Surabaya menyerahkan senjata.

Nah di gedung inilah, senjata-senjata itu harus diserahkan sambil berjalan jongkok dan kedua tangan mengalung di leher, tanda menyerah tanpa syarat.

Sejak direnovasi dan dibuka lagi pada 2009, gedung ini berganti nama menjadi Grha Wismilak, sesuai label pemiliknya, PT Wismilak Inti Makmur Tbk.

“Kami sangat konsen mempertahankan keaslian bangunan ini,” jelas Henry Najoan, Chief Personal & Legal Officer PT Wismilak Inti Makmur Tbk kepada Surya yang berkunjung, Jumat (14/8/2015).

Bangunan pada 1920-an itu berdiri kokoh di Jalan Raya Darmo No 36-38 Surabaya, persis di persimpangan dengan jalan Dr Soetomo.

Pada zamannya, gedung ini merupakan satu-satu bangunan berlantai dua di kawasan Darmo Boleuvaard dan Coen Boulevaard (Jl Dr Soetomo).

Pada masa kolonial, gedung milik saudagar Belanda itu digunakan untuk toko modern. Jepang yang masuk pada 1942 kemudian mengubahnya menjadi kantor polisi.

Puncak sejarah revolusi di gedung itu muncul setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

NICA datang untuk melucuti Jepang, yang telah dua setengah tahun menjajah Indonesia. Tapi, kedatangan NICA diboncengi Belanda, sehingga mendapat perlawan rakyat.

Sumber: Surya Cetak
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved