Kanal

Kisah Dibalik Pemberontakan PETA di Blitar - Supriyadi Menghilang, Soekarno Dihantui Rasa Bersalah

Monumen 7 Prajurit Peta Blitar - rintahani johan pradana/citizen

Bahkan ia juga bisa dijatuhi hukuman mati sehingga cita-citanya untuk memerdekakan bangsa Indonesia akan menjadi kandas.

Tepat 14 Februari 1945 dini hari pukul 03.00 WIB, pasukan PETA pimpinan Shodancho Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang.

Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin.

Akan tetapi kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana aksi pemberontakan PETA.

Supriyadi gagal menggerakkan satuan lain untuk memberontak dan rencana pemberontakan ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang.

Muradi, rekan Supriyadi dalam pemberontakan itu, bersama pasukannya dihukum mati di Pantai Ancol oleh Kenpeitai (Pengadilan Militer) Tentara Kekaisaran Jepang, pada 16 Mei 1945.

Supriadi, menurut sejarah Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini.

Muradi tetap bersama dengan pasukannya hingga saat-saat terakhir.

Mereka pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai, diadili dan dihukum mati dengan cara dipenggal sesuai hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Eevereld (sekarang pantai Ancol).

Soekarno sendiri sangat menyesali atas aksi pemberontakan PETA karena tidak berhasil mencegahnya. Ia juga merasa bersalah karena tidak bisa melakukan pembelaan.

Halaman
1234
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Musahadah
Sumber: Grid.ID

Video Kepanikan Penumpang Batik Air ID 7054 karena Mesin Pesawat Mati, Sempat Tak Boleh Turun

Berita Populer