Senin, 25 Mei 2026

Hikmah Ramadhan

Berdamailah dengan Musibah

Musibah bukan sekadar penderitaan, melainkan surat cinta Tuhan dan ujian kenaikan kelas. Simak hikmah di balik cobaan Nabi Yusuf dan Nabi Ayyub

Tayang:
Editor: Cak Sur
Tribunnews
Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA 

Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif dan berhasil.

Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.

Demikian pendapat para ahli anastesia. Penderitaan atau musibah sesungguhnya adalah “surat cinta Tuhan”. Tuhan merindukan hamba-Nya tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah.

Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Jika orang ditimpa musibah maka yang paling pertama dipanggil biasanya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akan tetapi jika orang diuji dengan kemewahan atau pangkat, dan jabatan, yang paling sering dihubungi, di SMS adalah makhluk Tuhan, berupa orang yang disayanginya. Tidak jarang di antara mereka adalah bukan muhrimnya dan sering terjadi dosa dan maksiyat karenanya.

Dengan demikian, musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesan nabi: “Jika Tuhan menyayangi hambanya maka siksaannya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Jika Tuhan tidak menyukai hambanya Dia menunda siksaan-Nya di akhirat yang amat pedih”.

Hadis lain dikatakan: “Orang yang menjalani sakit demam sehari maka akan dihapuskan dosanya setahun” (*)

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved