Hikmah Ramadhan
Berdamailah dengan Musibah
Musibah bukan sekadar penderitaan, melainkan surat cinta Tuhan dan ujian kenaikan kelas. Simak hikmah di balik cobaan Nabi Yusuf dan Nabi Ayyub
Oleh: Nasaruddin Umar
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Di mana ada ujian di situ ada kenaikan kelas.Tanpa ujian sulit menggapai kenaikan kelas.
Musibah itu ujian, jangan takut menghadapi ujian karena hanya dengan ujian martabat kita bisa meningkat.
Kematangan seseorang diuji dengan berbagai tantangan, bahkan cobaan. Hanya saja masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas.
Jika kita merenung dan berkontemplasi sejenak, maka memang benar bahwa di balik setiap musibah dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak.
Banyak ayat dalam Alquran mengajak kita untuk bersabar menghadapi musibah karena ternyata musibah adalah surat cinta Tuhan kepada hamba yang dikasihinya.
Suatu saat Nabi Yusuf berdoa: “Rab al-sijn ahbbu ilaiyya” (Ya Allah penjara aku lebih sukai) (Q.S. Yusuf/12:33). Ini diungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Ia memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya.
Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya.
Mungkin, kita pernah mengalami dalam kadar tertentu. Ini membuktikan bahwa ternyata penderitaan tidak selamanya menyakitkan tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Tuhan.
Banyak orang yang bukan Nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenagan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin.
Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidak nyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batinn aktif di dalam hati seseorang.
Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.
Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya ia dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan. Ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tatbib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian.
Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu. Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita dan tertekan hanyalah masalah psikologis.
| Nasaruddin Umar Ulas Kisah Habil Qabil, Ungkap Rahasia Spiritual Saving Jadi Tolak Bala Paling Ampuh |
|
|---|
| Fenomena Parsel Lebaran dan Wajib Halal Oktober 2024 |
|
|---|
| Ramadhan dan Penguatan Ketahanan Keluarga di era Digital |
|
|---|
| Ramadhan, Kuatkan Inkubator Bisnis Kejujuran dan Pengendali Inflasi |
|
|---|
| Puasa dan Kebajikan dalam Masyarakat Pluralis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Imam-BesarMasjid-IstiqlalKH-ProfNasaruddin-Umar.jpg)