Kamis, 28 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.870 per Dolar AS, Ekonom UB Ungkap Penyebab dan Dampaknya

Rupiah melemah hingga Rp17.870 per dolar AS. Ekonom UB menilai kondisi belum mengarah ke krisis seperti 1998.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Cak Sur
istimewa
RUPIAH MELEMAH - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Malang, Jawa Timur, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik di tengah kondisi rupiah yang semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah hingga menyentuh Rp17.870 per dolar pada Kamis (28/5/2026).
  • Ekonom FEB Universitas Brawijaya, Wildan Syafitri, menilai pelemahan rupiah dipicu capital outflow, kenaikan suku bunga AS, dan ketidakpastian global.
  • Meski berdampak pada harga impor dan biaya produksi, Wildan menegaskan kondisi ekonomi Indonesia belum mengarah pada krisis seperti 1998.

Laporan Wartawan SURYA.co.id, Rifky Edgar

SURYA.CO.ID, MALANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hingga menembus kisaran Rp17.870 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026).

Kondisi tersebut, memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait dampaknya terhadap harga barang, bahan baku impor, hingga potensi tekanan ekonomi nasional.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik atau terpengaruh sentimen negatif yang justru dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.

“Kalau masyarakat merasa ekonomi sedang tidak baik, mereka cenderung mencari aset yang dianggap aman seperti dolar. Permintaan dolar naik, akhirnya rupiah semakin tertekan,” ujar Wildan, Kamis (28/5/2026).

Capital Outflow dan Suku Bunga AS Jadi Pemicu

Wildan menjelaskan, nilai tukar rupiah bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran di pasar keuangan.

Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, maka kurs rupiah akan mengalami tekanan.

Menurutnya, salah satu faktor utama pelemahan rupiah saat ini adalah capital outflow atau arus modal asing yang keluar dari Indonesia.

Kondisi tersebut dipicu meningkatnya daya tarik investasi di Amerika Serikat, terutama ketika suku bunga acuan AS berada di level tinggi.

“Kalau suku bunga di Amerika naik, investor cenderung memindahkan dananya ke sana. Dampaknya, permintaan dolar meningkat dan rupiah melemah,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi global, Wildan menilai ketidakpastian geopolitik internasional, konflik antarnegara, hingga gejolak pasar saham global juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap negara berkembang seperti Indonesia.

Faktor yang dinilai memberi tekanan terhadap rupiah:

  • Kenaikan suku bunga Amerika Serikat
  • Capital outflow investor asing
  • Ketidakpastian geopolitik global
  • Pelemahan pasar saham
  • Penurunan kepercayaan investor

Pelemahan Rupiah Bisa Dorong Kenaikan Harga

Wildan menegaskan pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung dirasakan masyarakat dalam waktu singkat.

Namun secara bertahap, dampaknya dapat memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari karena Indonesia masih bergantung pada sejumlah barang impor.

Beberapa komoditas yang dinilai rentan terdampak antara lain:

  • Kedelai
  • Gandum
  • Terigu
  • Komponen bahan bakar minyak (BBM)
Sumber: Surya
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved