Sekolah Rakyat di Jawa Timur
Pakar Pendidikan : Sekolah Rakyat di Jawa Timur Perlu Waktu dan Standar Evaluasi Jelas
Menurut Dayat, sapaannya, pelaksanaan SR di Jawa Timur sejauh ini telah berjalan sesuai rencana.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Terkait rencana Pemerintah Provinsi Jawa Timur menambah delapan Sekolah Rakyat baru, alumnus University of Szeged, Hungaria ini menilai langkah tersebut sah-sah saja.
Namun, ia menekankan, kuantitas tidak boleh mengorbankan kualitas.
“Menambah Sekolah Rakyat tidak masalah. Tapi yang harus dicatat, kualitasnya wajib dipastikan. Pemerintah juga jangan melupakan sekolah umum yang sudah ada, karena banyak sekolah negeri yang masih membutuhkan perhatian serius untuk menjamin kualitasnya,” jelasnya.
Kualitas Tenaga Pendidik dan Fasilitas Sekolah Rakyat
Untuk memastikan kualitas tenaga pendidik dan fasilitas SR tidak tertinggal dari sekolah negeri umum, ia menekankan pentingnya standarisasi guru.
Ia merujuk pada pemikiran Eric De Corte (2003) yang menyatakan bahwa cara berpikir dan kompetensi siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi guru dan siswa di kelas.
Selain itu, riset Hidayatullah dan Csikos (2023) menunjukkan aspek emosional dan kreativitas siswa didorong oleh sistem keyakinan (beliefs) yang dibentuk guru.
“Pemerintah perlu memastikan guru Sekolah Rakyat adalah mereka yang sudah memiliki sertifikat PPG. Selain itu, infrastruktur dan sistem evaluasi harus tertata dengan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong kolaborasi dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Melalui kerja sama tersebut, SR dapat dikembangkan sebagai laboratory school untuk penerapan teknologi pembelajaran dan asesmen autentik.
Rumusan Kurikulum Sesuai Kebutuhan Masyarakat
Mengenai integrasi kurikulum SR dengan kebutuhan pasar kerja lokal di Jawa Timur, dikatakannya rumusan kurikulum harus benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat.
Ia mengutip pemikiran Ivan Illich (1971) yang menekankan bahwa sekolah alternatif perlu didekatkan kepada rakyat agar tidak menjadi instrumen yang justru melanggengkan ketimpangan sosial.
“Kurikulum Sekolah Rakyat sebaiknya dirancang agar relevan dengan kehidupan dan kebutuhan rakyat, bukan sekadar meniru model pendidikan formal yang berjarak dengan realitas sosial,” pungkasnya.
BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS
| Cerita Siswa Sekolah Rakyat di Mojokerto : Motivasi Belajar Meningkat |
|
|---|
| Keterbatasan Ekonomi Tak Surutkan Siswa Sekolah Rakyat Lamongan untuk Gapai Cita-cita |
|
|---|
| Perjuangan Adaptasi Siswa Sekolah Rakyat di Surabaya, Abel Sempat Kabur 4 Kali Tapi Kini Jadi Betah |
|
|---|
| Dinsos Jatim: Februari Mulai Ground Check Rekrutmen Siswa Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 |
|
|---|
| M Nuh: Sekolah Rakyat di Jatim Harus Jadi Pendidikan Berkeadilan dan Berdampak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/potensi-besar-dalam-memperluas-akses-pendidikan-berkualitas-bagi-masyarakat-N.jpg)