Jumat, 17 April 2026

KSP Dorong Percepatan Program Cek Kesehatan Gratis Dan Skrining TB, Lingkungan Ini Jadi Prioritas

Antisipasi agar jika ada yang sakit, segera diobati demi menyelamatkan anak-anak yang lain

Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Wiwit Purwanto
istimewa
TINJAU CKG- Deputi III KSP meninjau cek kesehatan gratis di Pondok Pesantren Modern Sunanul Muhtadin, Gresik, Jawa Timur, Kamis (18/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  •  Percepatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta penuntasan TB agar mencapai target maksimal pada akhir 2025.
  • Target nasional CKG yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebanyak 100 juta orang.
  • Selain pemeriksaan kesehatan umum, pemerintah melakukan skrining TBC (Tuberkulosis). 

 

SURYA.co.id Surabaya - Kantor Staf Presiden (KSP) terus mengawal dan mendorong percepatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta penuntasan TB agar mencapai target maksimal pada akhir 2025.

Hal ini sesuai agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto, mengingat tenggat akhir tahun yang semakin dekat.

Pemerintah kini membidik komunitas besar yang memiliki risiko penularan penyakit tinggi, salah satunya pondok pesantren. 

Deputi III KSP yang dipimpin oleh Tenaga Ahli Utama KSP Dr. Zahera Mega Utama, SE, MM didampingi dr. Adele Hutapea, M.Kes, serta Muhajir S.Kep., Ners, MMR., meninjau langsung pelaksanaan CKG di Pondok Pesantren Modern Sunanul Muhtadin, Gresik, Jawa Timur, Kamis (18/12/2025).

Target CKG 100 Juta Orang

Langkah tersebut diambil untuk menutup celah (gap) sebesar 35 persen dari target nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebanyak 100 juta orang.

"Capaian kita secara umum saat ini sudah 65 persen. Masih ada sisa 35 persen yang harus dikejar dalam waktu singkat. Karena itu, kami menyasar komunitas seperti pondok pesantren, lapas, dan perkantoran yang mobilitasnya tinggi," ujar Dr. Zahera Mega Utama, dalam keterangan tertulis.

Baca juga: Antusiasme Warga Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis di Surabaya, Layanan Puskesmas 24 Jam

Perempuan yang akrab disapa Mega itu menyebut, pemilihan pondok pesantren sebagai titik fokus bukan tanpa alasan.

Dengan lebih dari 4 juta santri di seluruh Indonesia, pesantren merupakan lingkungan dengan interaksi komunal yang sangat intens selama 24 jam.

Mega menjelaskan bahwa selain pemeriksaan kesehatan umum, pemerintah melakukan skrining TBC (Tuberkulosis).

Ckg 2
LAYANAN KESEHATAN- Pemerintah ingin memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, Anak-anak di ponpes harus mendapat kesempatan dan fasilitas kesehatan yang sama dengan mereka yang berada di sekolah umum

Risiko Tinggi Penyebaran Penyakit

Di lingkungan asrama, risiko penyebaran penyakit paru tersebut sangat cepat jika ada satu santri yang terinfeksi namun tidak terdeteksi sejak dini. 

"Kehidupan komunitas di asrama ini perlu perhatian khusus. Jangan sampai satu anak terdeteksi TB, lalu menularkan ke seluruh lingkungan. Kita antisipasi agar jika ada yang sakit, segera diobati demi menyelamatkan anak-anak yang lain," lanjut Mega.

Data menunjukkan sekitar 7,5 persen pelajar di Indonesia adalah santri. Namun, banyak pesantren yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan layanan Puskesmas setempat.

Baca juga: Sukseskan Program Cek Kesehatan Gratis, Pemkab Gresik Kerahkan Tenaga Kesehatan ke Pelosok Desa

Hal ini kerap membuat akses kesehatan di ponpes menjadi prioritas sekunder.

Tenaga Ahli KSP, dr. Adele Hutapea, menambahkan bahwa di Jawa Timur saja, 4 persen anak usia pelajar berada di Pondok Pesantren.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved