Kamis, 23 April 2026

Konselor Kesehatan Mental Ungkap Bahaya Judol dan Cara Mengatasinya

Konselor Kesehatan Mental ungkap bahaya judi online (judol) dan cara mengatasinya dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di Surabaya, Jatim

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Nur Ika Anisa
JUDI PASTI RUGI - Ika Wahyuningrum, S.Psi. selaku Mental Health Counselor dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di CFD Darmo Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (21/9/2025). Ika menjelaskan terkait bahaua judi online (judol) terhadap kesehatan mental. 

“Di titik inilah kecanduan judi online mulai terbentuk. Semakin lama semakin sulit berhenti, karena otak sudah merekam pola perilaku tersebut,” tutur Ika.

Ika menambahkan, ada beberapa tingkatan kecanduan judol. 

Pada level berat, penderita bahkan membutuhkan farmakoterapi atau pengobatan medis dengan obat, selain konseling psikologis.

“Kalau masih ringan atau sedang, biasanya bisa dilakukan konseling tanpa obat. Tapi kunci utamanya tetap ada pada self awareness, kesadaran pribadi,” tegasnya.

Menurut Ika, masalah besar dari judol adalah pada tahap awal korban biasanya tidak merasa dirugikan.

Padahal, kerugian finansial dan psikologis sudah terjadi.

“Harus ada kesadaran diri dulu, bahwa apa yang dilakukan itu merugikan diri sendiri dan keluarga,” paparnya.

Selain itu, tambah Ika, dukungan keluarga memegang peranan penting dalam proses pemulihan pecandu judol.

“Keluarga harus memberikan dukungan penuh. Tapi kalau hanya dipaksa berhenti, biasanya sulit, karena pelaku akan mencari celah untuk tetap mengakses judi,” Ika menerangkan.

Ia juga menekankan, menutup seluruh akses terhadap judol sangat efektif untuk membantu pecandu berhenti.

“Kalau akses benar-benar ditutup, biasanya akan muncul gejala mirip sakau. Tapi proses itu perlu dilewati agar bisa pulih,” ungkap Ika.

Ika berpesan, agar masyarakat lebih waspada terhadap bahaya judol, khususnya para orang tua untuk menjaga anak-anak dari paparan sejak dini.

“Judi online bukan hanya soal kehilangan uang, tapi juga bisa menghancurkan masa depan generasi muda,” pungkasnya.

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved