Sabtu, 25 April 2026

Konselor Kesehatan Mental Ungkap Bahaya Judol dan Cara Mengatasinya

Konselor Kesehatan Mental ungkap bahaya judi online (judol) dan cara mengatasinya dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di Surabaya, Jatim

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Nur Ika Anisa
JUDI PASTI RUGI - Ika Wahyuningrum, S.Psi. selaku Mental Health Counselor dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di CFD Darmo Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (21/9/2025). Ika menjelaskan terkait bahaua judi online (judol) terhadap kesehatan mental. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Judi online (judol) semakin meresahkan, karena bisa menjerat siapa saja, mulai dari remaja hingga orang dewasa. 

Hal tersebut, disampaikan oleh Ika Wahyuningrum, S.Psi. selaku Mental Health Counselor, dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di CFD Darmo Surabaya pada Minggu (21/9/2025).

Menurutnya, paparan judol bisa terjadi sejak usia sangat muda. 

Bahkan, banyak kasus ditemukan pada anak SMA yang masih berada di fase labil dalam hidupnya.

“Paparan judi online sebenarnya tidak terbatas usia. Namun, ada beberapa tipe kepribadian yang lebih rentan terjebak judi, terutama individu yang impulsif atau terburu-buru dan sulit mengendalikan diri,” jelas Ika.

Kepribadian ini, lanjut Ika, biasanya terbentuk dari pengaruh pola asuh keluarga, pergaulan serta kondisi perkembangan di usia remaja.

Usia 17 tahun yang merupakan usia perkembangan, kerap kali rentan terpengaruh lingkungan.

Ditunjang lagi dengan akses pergaulan, maupun media yang dapat dijangkau anak muda.

“Anak zaman sekarang makin rentan. Judi online tidak mengenal pendidikan maupun usia” tegasnya.

Lebih jauh, Ika menjelaskan, bahwa judol bekerja seperti kecanduan perilaku (behavioral addiction) di otak manusia.

Mekanismenya, bahkan mirip dengan kecanduan zat adiktif seperti narkoba.

“Ketika seseorang bermain judi dan mendapat jackpot, otak mengeluarkan dopamin yang membuat rasa bahagia. Masalahnya, meski tidak menang tapi hampir menang, otak tetap memproduksi dopamin,” jelas Ika.

Kondisi inilah yang membuat pemain judol belajar, bahwa rasa senang hanya bisa diraih dengan bermain lagi dan lagi.

Seiring waktu, dopamin dalam tubuh bisa menjadi kebal. 

Akibatnya, pemain harus menambah nominal taruhan agar bisa merasakan euforia yang sama.

“Di titik inilah kecanduan judi online mulai terbentuk. Semakin lama semakin sulit berhenti, karena otak sudah merekam pola perilaku tersebut,” tutur Ika.

Ika menambahkan, ada beberapa tingkatan kecanduan judol. 

Pada level berat, penderita bahkan membutuhkan farmakoterapi atau pengobatan medis dengan obat, selain konseling psikologis.

“Kalau masih ringan atau sedang, biasanya bisa dilakukan konseling tanpa obat. Tapi kunci utamanya tetap ada pada self awareness, kesadaran pribadi,” tegasnya.

Menurut Ika, masalah besar dari judol adalah pada tahap awal korban biasanya tidak merasa dirugikan.

Padahal, kerugian finansial dan psikologis sudah terjadi.

“Harus ada kesadaran diri dulu, bahwa apa yang dilakukan itu merugikan diri sendiri dan keluarga,” paparnya.

Selain itu, tambah Ika, dukungan keluarga memegang peranan penting dalam proses pemulihan pecandu judol.

“Keluarga harus memberikan dukungan penuh. Tapi kalau hanya dipaksa berhenti, biasanya sulit, karena pelaku akan mencari celah untuk tetap mengakses judi,” Ika menerangkan.

Ia juga menekankan, menutup seluruh akses terhadap judol sangat efektif untuk membantu pecandu berhenti.

“Kalau akses benar-benar ditutup, biasanya akan muncul gejala mirip sakau. Tapi proses itu perlu dilewati agar bisa pulih,” ungkap Ika.

Ika berpesan, agar masyarakat lebih waspada terhadap bahaya judol, khususnya para orang tua untuk menjaga anak-anak dari paparan sejak dini.

“Judi online bukan hanya soal kehilangan uang, tapi juga bisa menghancurkan masa depan generasi muda,” pungkasnya.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved