Kamis, 23 April 2026

Konselor Kesehatan Mental Ungkap Bahaya Judol dan Cara Mengatasinya

Konselor Kesehatan Mental ungkap bahaya judi online (judol) dan cara mengatasinya dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di Surabaya, Jatim

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Nur Ika Anisa
JUDI PASTI RUGI - Ika Wahyuningrum, S.Psi. selaku Mental Health Counselor dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di CFD Darmo Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (21/9/2025). Ika menjelaskan terkait bahaua judi online (judol) terhadap kesehatan mental. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Judi online (judol) semakin meresahkan, karena bisa menjerat siapa saja, mulai dari remaja hingga orang dewasa. 

Hal tersebut, disampaikan oleh Ika Wahyuningrum, S.Psi. selaku Mental Health Counselor, dalam kampanye Judi Pasti Rugi yang digelar di CFD Darmo Surabaya pada Minggu (21/9/2025).

Menurutnya, paparan judol bisa terjadi sejak usia sangat muda. 

Bahkan, banyak kasus ditemukan pada anak SMA yang masih berada di fase labil dalam hidupnya.

“Paparan judi online sebenarnya tidak terbatas usia. Namun, ada beberapa tipe kepribadian yang lebih rentan terjebak judi, terutama individu yang impulsif atau terburu-buru dan sulit mengendalikan diri,” jelas Ika.

Kepribadian ini, lanjut Ika, biasanya terbentuk dari pengaruh pola asuh keluarga, pergaulan serta kondisi perkembangan di usia remaja.

Usia 17 tahun yang merupakan usia perkembangan, kerap kali rentan terpengaruh lingkungan.

Ditunjang lagi dengan akses pergaulan, maupun media yang dapat dijangkau anak muda.

“Anak zaman sekarang makin rentan. Judi online tidak mengenal pendidikan maupun usia” tegasnya.

Lebih jauh, Ika menjelaskan, bahwa judol bekerja seperti kecanduan perilaku (behavioral addiction) di otak manusia.

Mekanismenya, bahkan mirip dengan kecanduan zat adiktif seperti narkoba.

“Ketika seseorang bermain judi dan mendapat jackpot, otak mengeluarkan dopamin yang membuat rasa bahagia. Masalahnya, meski tidak menang tapi hampir menang, otak tetap memproduksi dopamin,” jelas Ika.

Kondisi inilah yang membuat pemain judol belajar, bahwa rasa senang hanya bisa diraih dengan bermain lagi dan lagi.

Seiring waktu, dopamin dalam tubuh bisa menjadi kebal. 

Akibatnya, pemain harus menambah nominal taruhan agar bisa merasakan euforia yang sama.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved