Berita Viral

Alasan Tumini Minta Ganti Rugi usai Dilarang Tinggal di Toilet Umum Surabaya, Habis Jutaan Untuk Ini

Tumini (47), warga Kelurahan Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, berharap mendapat ganti rugi usai dilarang tinggal di toilet umum.

Penulis: Arum Puspita | Editor: Musahadah
Kompas.com Izzatun Najibah
TOILET - (kiri) Penampakan toilet umum yang ditinggali Tumini (kanan) petugas melakukan pengosongan toilet umum 

SURYA.CO.ID - Tumini (47), warga Kelurahan Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, mengaku ikhlas dilarang tinggal di toilet umum Taman Ngagel Tirto.

Namun, ia tetap berharap mendapat ganti rugi atas fasilitas yang ia buat dengan dana pribadi. 

Di antaranya memasang listrik, pompa air, dan membangun sumur sedalam 17 meter sejak awal dia kelola pada tahun 2010.

“Kalau sudah enggak boleh, tidak apa-apa. Tapi maksud saya, listrikku diganti, pasangnya dulu 1 juta, pompa air dulu 1,5 juta, dan sumur sekitar Rp 750.000,” ujar dia.  

Uang ganti rugi itu, kata Tumini, akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 

"Jika harapan tersebut dipenuhi, uang ganti rugi rencananya digunakan untuk menyambung hidup dan membayar utang."

“Kalau bisa, kan uangnya bisa buat tambahan untuk usaha nanti. Karena saya masih punya pinjaman harian,” kata Tumini.

Diketahui, Tumini harus angkat kaki dari toilet umum yang sudah ditinggalinya selama bertahun-tahun.

Sejak kisahnya viral pada Rabu (2/7/2025), Pemkot Surabaya dan jajaran terkait melakukan sterilisasi.

Perabot Tumini yang berada di toilet dikembalikan ke rumah yang berada di RT 1 RW 2 Lumumba, Ngagel.

Tumini pun pusing karena toilet umum tersebut juga menjadi lahan mata pencahariannya selama ini.

Selama menjaga ponten umum, Tumini pernah mengantongi pendapatan Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per hari dari konsumen di masa kejayaan Taman Ngagel.

Baca juga: Rezeki Nomplok Bocah Yatim Piatu usai Ibu Jadi Korban Insiden KMP Tunu Pratama Jaya, Nenek Dapat

Namun, belakangan sepi dan sekitar lima tahun lalu Tumini membuka warung sederhana menjual minuman dan makanan di ponten umum.

Untuk menjaga barang dan tempat, ibunya terkadang tidur di ponten saat malam hari.

Pendapatannya selain digunakan untuk kehidupan sehari-hari, juga untuk biaya perawatan dan perbaikan ponten.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved