Diluncurkan Mentan dan SGN, Varietas Tebu Unggul SGN-01 Pertegas Roadmap Swasembada Gula 2028

Pada musim tanam periode 2025/2026, sumber benih awal seluas ±2,386 ha akan menghasilkan ±14,316 ha tanaman baru

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Deddy Humana
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN)
VARIETAS TEBU BARU - Bupati Lumajang, Indah Amperawati bersama Direktur Utama PT SGN, Mahmudi dan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, didampingi Plt Gubernur Jatim, Emil Dardak serta Direktur Utama PTPN III (Persero), Abdul Ghani dan Dirjen Perkebunan, saat Peluncuran Varietas Tebu Unggul SGN-01 di Kebun HGU PG Jatiroto PT SGN. 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) melalui Pusat Penelitian Tebu Jengkol, Manajemen KSO Kebun Dhoho, memperkenalkan varietas unggul tebu SGN-01. Varietas ini merupakan hasil program pemuliaan yang telah dirakit sejak tahun 2013.

Diharapkan varietas ini mampu menggantikan varietas Bululawang yang selama lebih dari dua dekade mendominasi pertanaman tebu di wilayah kerja PT SGN. Hanya, Bululawang mulai rentan terhadap serangan penyakit dan mengalami penurunan produktivitas.

“Peluncuran varietas baru ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan industri gula nasional," kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (Mentan) RI, saat kunjungan di Lumajang beberapa waktu yang lalu. 

Dalam rilis yang dikirimkan SGN, Minggu (15/6/2025), peluncuran SGN-01 menjadi momentum penting dalam roadmap swasembada gula nasional yang ditargetkan tercapai pada 2028.

“SGN-01 bukan hanya varietas baru, tetapi simbol harapan. Dengan produktivitas yang mencapai 120 ton per hektare dan rendemen gula di atas 10 persen, kita optimistis dapat mengurangi ketergantungan impor secara signifikan”, ujar Amran.

Berdasarkan uji multilokasi selama tiga musim tanam, SGN-01 menunjukkan kinerja agronomis menjanjikan. Pada tanaman pertama (PC), tercatat produktivitas sebesar 1.385 ± 135 kuintal per hektare dengan rendemen 9,19 ± 1,10 persen dan hablur 127,28 ± 20,74 kuintal per hektare.

Pada tanaman keprasan (RC), produktivitas mencapai 1.085 ± 200 kuintal per hektare dengan rendemen 8,89 ± 0,95 persen dan hablur 97,42 ± 25,18 kuintal per hektare.

“SGN 01 ini dirancang sebagai varietas masak tengah lambat dengan potensi produktivitas tinggi dan keunggulan agronomis lainnya,” tambah Mahmudi, Direktur Utama PT SGN.

Analisis usaha tani menggunakan metode anggaran partial menunjukkan nilai keekonomian yang menguntungkan. Penggunaan SGN-01 pada tanaman pertama memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp 45,3 juta per hektare dengan B/C ratio 1,23.

Sementara pada tanaman keprasan I dan II, tambahan keuntungan masing-masing sebesar Rp21,8 juta (B/C 1,11) dan Rp28,5 juta (B/C 1,17) per hektare.

Perwakilan Pusat Penelitian Tebu PT SGN menyampaikan bahwa untuk menjawab potensi kebutuhan benih yang tinggi, laboratorium kultur jaringan PT SGN telah menyiapkan program perbanyakan benih.

Pada musim tanam periode 2025/2026, sumber benih awal seluas ±2,386 ha akan menghasilkan ±14,316 ha tanaman baru. 

Adapun untuk musim tanam  2026/2027, penangkaran benih (KBN) seluas ±0,846 ha ditargetkan menghasilkan ±182,736 ha tanaman baru.

SGN-01 juga dinilai adaptif terhadap tipe iklim C3, baik di lahan bertekstur berat jenis Aluvial maupun lahan ringan jenis Regosol. 

Dengan kharakter ini, varietas ini memiliki prospek untuk dikembangkan secara lebih luas, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di wilayah-wilayah lain dengan agroekologi serupa.

Peluncuran varietas unggul SGN-01 menjadi momentum penting dalam transformasi sektor pergulaan Indonesia, menuju kemandirian produksi dan penguatan ketahanan pangan nasional.

"Dengan hadirnya SGN-01, Indonesia mengambil langkah besar untuk memperkuat fondasi industri gula nasional menjadi lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaulat," pungkas Mahmudi. *****

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved