Kenali dan Atasi Gangguan Pendengaran pada Lansia
Gangguan pendengaran menjadi salah satu masalah umum para lansia yang sering kali dianggap sepele.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | SURABAYA - Gangguan pendengaran menjadi salah satu masalah umum para lansia yang sering kali dianggap sepele.
Padahal, dampaknya tidak hanya terhadap komunikasi, tetapi juga pada kondisi psikologis dan sosial para lansia.
“Gangguan pendengaran itu tidak langsung terasa, turunnya pelan-pelan. Tapi efeknya bisa berat. Komunikasi terganggu, bisa jadi minder, cepat marah karena tidak paham lawan bicara. Bahkan di dalam keluarga bisa menimbulkan kesalahpahaman,” jelas Dr Andi Roesbiantoro SpTHT-KL, dokter spesialis THT RSI Ahmad Yani yang menjadi narasumber dalam talkshow kesehatan Temu Sahabat Radio Pensiunan yang digelar bertepatan dengan Hari Lansia Nasional 2025 di Makan Kafe &Time Resto Surabaya, Rabu (11/6/2025).
Acara ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan pendengaran, khususnya di usia senja.
Menurutnya, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran.
Selain proses degeneratif alami karena pertambahan usia, kebiasaan sehari-hari juga berperan besar.
Paparan kebisingan dari lingkungan kerja, seringnya menggunakan headset dengan volume tinggi, konsumsi obat-obatan tertentu secara berlebihan, serta infeksi telinga yang tidak tertangani dengan baik, semuanya bisa mempercepat kerusakan pendengaran.
Hal serupa disampaikan oleh Arnold Frans, Business Development dari PT Alat Bantu Dengar Indonesia.
Ia menyebutkan bahwa selama ini masyarakat cenderung terlambat menyadari gangguan pendengaran.
“Biasanya orang baru sadar ada masalah setelah kondisinya cukup parah. Mereka baru datang mencari alat bantu dengar saat kemampuan pendengaran sudah turun drastis. Padahal, kalau deteksi dini dilakukan, penggunaan alat bantu bisa lebih efektif dan adaptasinya pun jauh lebih mudah,” ujarnya.
Arnold juga menekankan pentingnya skrining secara rutin, bahkan sejak usia 30-an.
Ia mencontohkan dirinya sendiri yang baru mengetahui penurunan pendengarannya di usia 44, meskipun gejalanya sudah muncul sejak usia 40.
“Skrining bisa dilakukan gratis di beberapa komunitas. Kalau ditemukan gangguan, nanti bisa dirujuk ke dokter THT untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tambahnya.
Menurutnya, ada dua jenis gangguan pendengaran yang bisa diobati dan yang bersifat permanen.
“Kalau masih dalam tahap awal, seperti sumbatan atau infeksi, biasanya bisa sembuh dengan pengobatan. Tapi kalau sudah kerusakan saraf atau bawaan lahir seperti karena infeksi rubella saat dalam kandungan, itu permanen. Nah, di sinilah alat bantu dengar berperan penting,” jelasnya.
| Sabet 2 Penghargaan Nasional, Dindik Jatim Tancap Gas Perkuat Sertifikasi Vokasi |
|
|---|
| Yekape Rilis Rumah Tipe 24 di Surabaya: DP Suka-suka, Cicilan Bisa 25 Tahun |
|
|---|
| Giliran Roy Suryo Tuding Rismon Sianipar Palsukan Surat Kematian, Sebut Jahat hingga Bohongi Tuhan |
|
|---|
| UPDATE Temuan Jasad di Ladang Jagung Wonosalam Jombang, Hanya Ditemukan HP di Saku Korban |
|
|---|
| Evaluasi Persebaya Surabaya: Badai Cedera dan Strategi Rotasi Tim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/EDUKASI-GANGGUAN-PENDENGARAN-Peserta-Temu-Sahabat-Radio.jpg)