Sabtu, 2 Mei 2026

Siloam Oncology Summit 2025, Kedokteran Nuklir Berpotensi Jadi Harapan Baru dalam Terapi Kanker

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi mengembangkan inovasi penanganan kanker melalui pelaksanaan Siloam Oncology Summit (SOS) 2025.

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
MRCCC
PENANGANAN KANKER - Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Konsultan Nuklir Onkologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Ryan Yudistiro SpKN(K) MKes FANMB PhD (kiri) bersama ⁠⁠Dokter National Cancer Institute - Anthoni van Leeuwenhoek Netherland, Prof Marcel PM Stokkel MD PhD (kanan) sesaat setelah memaparkan materi pada sesi Plenary 3 yang menjadi rangkaian kegiatan Siloam Oncology Summit (SOS) 2025. 

Pada hari-hari terakhir kehidupan pasien kanker, sesak napas ini juga meningkat.

Terapi untuk sesak napas kronis bisa berupa nonfarmakologi dan farmakologi.

Untuk nonfarmakologi bisa menggunakan kipas genggam yang menggunakan baterai.

Sedangkan terapi farmakologi, penelitian menunjukkan penggunaan morfin dosis rendah memberikan manfaat.

Pembicara ketiga yaitu ⁠⁠Dokter National Cancer Institute - Anthoni van Leeuwenhoek Netherland, Prof Marcel PM Stokkel MD PhD, membahas soal konsep teranostik (terapi dan diagnostik) dalam kedokteran nuklir pada kanker.

Kedokteran nuklir menggunakan radionuklida atau radioisotop. Ini sudah mulai dilakukan sejak 1940-an, pasca Perang Dunia II, tapi penggunaannya baru berkembang pesat sekitar 10 tahun terakhir.

“Radioisotop akan menyebar ke seluruh tubuh dan menempel pada sel kanker, lalu menargetkannya (membunuhnya) secara spesifik, dan menghentikan penyebaran kanker di dalam tubuh,” jelas Prof Stokkel.

Terapi dengan radioisotop telah banyak digunakan pada kanker tiroid, prostat, dan kanker neuro-endokrin.

Radioisotop efektif dalam membasmi kanker karena bekerja dari dalam tubuh secara sistemik, sehingga mampu menargetkan seluruh sel kanker di dalam tubuh.

Secara umum, efek sampingnya pun lebih minimal dibandingkan terapi sistemik lain seperti kemoterapi dan imunoterapi.

“Kemoterapi kerap menimbulkan efek samping pada berbagai organ, termasuk ginjal dan sumsum tulang. Itu sebabnya pasien merasa payah setelah terapi. Terapi berikutnya mungkin perlu ditunda hingga kondisinya membaik. Sedangkan dengan terapi radioisotop, efek samping sangat minimal. Empat jam setelah injeksi, pasien bisa langsung pulang,” jelas Prof Stokkel.

Sayangnya, saat ini penggunaan radioisotop umumnya masih digunakan untuk mengobati kanker stadium lanjut, atau yang sudah tidak lagi responsif terhadap pengobatan standar, di mana opsi terapi sangatlah terbatas.

“Penelitian masih terus dilakukan. Menurut temuan, hasilnya sangat menjanjikan untuk mengobati kanker prostat dan neuro-endokrin sejak stadium awal. Tapi skalanya masih dalam penelitian, belum untuk digunakan dalam level klinis,” ujar Prof Stokkel.

Lebih jauh tentang terapi nuklir, dijelaskan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Konsultan Nuklir Onkologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Ryan Yudistiro SpKN(K) MKes FANMB PhD, dalam diskusi bersama media seusai simposium ilmiah, bahwa di kedokteran nuklir, biasa digunakan radioaktif yang memancarkan sinar gamma.

“Sinar ini dideteksi oleh kamera gamma, dan menghasilkan pencitraan yang detil,” ujar dr Ryan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved